Seminar Prasasti Kedukan Bukit, Menguak Makna dan Warisan Kedatuan Sriwijaya dari Koleksi Museum Negeri Sumsel
Dosen Pendidikan Sejarah Unsri, Dr. Hudaidah M.Pd. membawakan materi penting mengenai “Makna Prasasti Kedukan Bukit Kedatuan Sriwijaya Bagi Kita dan Dunia-Foto: Sri Devi-koranpalpres.com
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) menyelenggarakan Seminar Prasasti Kedukan Bukit koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan, hasil pengkajian koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan.
Acara yang digelar di Auditorium Museum Negeri Sumatera Selatan, menghadirkan para ahli sejarah dan epigrafi untuk mengupas tuntas Prasasti Kedukan Bukit, Rabu 3 September 2025.
Seminar ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, komunitas sejarah, guru sejarah, hingga pemerhati budaya dan sejarah yang menghadirkan wawasan baru tentang peranan Sriwijaya dalam lintasan sejarah sosial budaya Nusantara dan dunia.
Acara ini dimoderatori dengan apik oleh Dra. Hj. Yoyoh Juariah, M.Pd., yang berhasil mengalirkan diskusi dan pembahasan secara interaktif dan mendalam.
BACA JUGA:Inilah 7 Sanggar yang Sukses Menjuarai Lomba Tari Kreasi Tradisional 2025 di Museum Negeri Sumsel
BACA JUGA:Gelar Lomba Tari Kreasi Tradisional Tingkat Umum, Ini Tujuan Museum Negeri Sumsel
Seminar Prasasti Kedukan Bukit diawali dengan pembahasan dari Ketua Umum Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), Dr. Wahyu Rizky Andhifani, S.S., M.M, yang mengupas topik menarik bertajuk “Membuka Ulang Prasasti”.
Ia menegaskan bahwa prasasti ini, yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit di Kota Palembang, sebenarnya tidak menyebutkan nama “Palembang” secara eksplisit, namun wilayah penemuan prasasti ini menjadi dasar penting bagi pemahaman sejarah dan bahkan menjadi salah satu pijakan hari jadi Kota Palembang.
Dr. Wahyu juga menekankan bahwa prasasti ini adalah dokumen legendaris yang mengisahkan pendirian sebuah “wanua” atau pemukiman baru yang diberi nama Sriwijaya, sebuah pusat Kedatuan yang menjadi simbol kejayaan dan kemakmuran.
"Menurut penuturan beberapa penduduk setempat, Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh seorang warga bernama H. Zahri (alm) bin H. Abdurrahman di tepi Sungai Kedukan Bukit, ±43 m dari kediamannya di daerah Kelurahan Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kemungkinan, penemuan tersebut kemudian dilaporkan olehnya kepada seorang kontrolir Belanda bernama M. Batenburg sehingga terbitlah laporan penemuan Prasasti Kedukan Bukit pada pada 29 November 1920," jelasnya saat mengisi seminar.
BACA JUGA:Lomba Sang Juara Payo ke Museum dari SMK Karya Sembawa Berlangsung Seru dan Penuh Ketegangan
Melalui analisis mendalam terhadap teks prasasti yang berbahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan aksara Aksara Pallawa akhir, Dr. Wahyu memaparkan bagaimana prasasti tersebut menggambarkan keberhasilan perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hiyang dengan membawa bala tentara besar berjumlah dua laksa (20.000 prajurit).
Serta proses mendirikan kedatuan baru yang menjadi tonggak kejayaan Sriwijaya.