Kilang Plaju Beraksi! Upaya Tak Terlihat Menjamin Pasokan Energi Sumbagsel
Intip upaya Kilang Plaju menjaga kelancaran pasokan energi di Sumbagsel. Mulai dari inovasi produksi hingga distribusi BBM yang andal dan berkelanjutan.--pertamina kilang plaju for koranpalpres.com
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Kilang Plaju terus memperkuat perannya sebagai salah satu penopang utama ketahanan energi nasional dengan memastikan kontinuitas pasokan energi, khususnya untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Komitmen ini direalisasikan melalui pengelolaan rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari penerimaan minyak mentah hingga distribusi produk ke masyarakat.
Google Advertisement Below
Sebagai salah satu unit pengolahan tertua namun paling strategis di Indonesia, Kilang Plaju memikul tanggung jawab besar sebagai pilar energi di Sumatera.
Kilang tertua di Indonesia ini memiliki kapasitas desain pengolahan mencapai 120 MBSD atau sekitar 12 persen dari total kapasitas kilang Pertamina.
BACA JUGA:Cegah Insiden Sejak Dini, Kilang Pertamina Plaju Perketat Pengawasan Lewat Safety Walk & Talk
BACA JUGA:Musim Haji, Pertamina Patra Niaga Pastikan Avtur Aman, Kuartal Pertama Produksi 134 Ribu Barel
Kapasitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan suplai energi seiring dengan kebutuhan yang terus berkembang.
Pasokan minyak mentah (crude oil) sebagai bahan baku utama diperoleh melalui dua jalur, yaitu pipa dan kapal.
Crude dari wilayah Sumbagsel antara lain Ramba (Jambi), South Palembang District (SPD), Talang Akar Pendopo, dan Kaji, umumnya disalurkan melalui jaringan pipa.
Sementara itu, pasokan dari luar wilayah seperti Banyu Urip, Mudi, Arjuna, dan Ketapang didistribusikan melalui jalur laut menggunakan kapal.
BACA JUGA:Produk Lokal Naik Kelas! Inovasi Ecoprint Kilang Pertamina Plaju Tembus Pasar Kreatif
BACA JUGA:Jelang Pit Stop 2026, Kilang Pertamina Plaju Perkuat Kepedulian Sosial Melalui Doa Bersama
Untuk menjaga keandalan pasokan, Kilang Plaju mengoptimalkan distribusi melalui skema ship-to-ship (STS) di perairan Muntok, Selat Bangka.
Melalui metode ini, minyak mentah dari kapal induk (mothership) ditransfer ke kapal berukuran lebih kecil.