https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Niat Ziarah Mesti Menerabas 'Hutan', KOPZIPS dan Zuriat NU Palembang Desak Pemerintah Buka Akses TPU

Akses makam Tokoh NU 1940-an tertutup semak belukar. KOPZIPS dan Zuriat gotong royong terabas TPU Bukit Lama, usul jalan permanen!--dokumentasi

PALEMBANG, KORANPALPRES.COM – Semangat untuk merawat ingatan sejarah dan meneladani para ulama besar tak pernah surut di Palembang.

Langkah nyata ini kembali ditunjukkan oleh Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (KOPZIPS).

Bersama pihak keluarga besar zuriat, mereka menggelar ziarah ke makam salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) era 1940-an, Masagus KH. Abdul Roni Halim (dikenal juga sebagai Kyai Cek Oni).

Ketua KOPZIPS, Muhamad Setiawan yang akrab disapa Cek Wan, hadir bersama anggotai KOPZIPS Ustadz Hafidhuddin, serta jajaran keluarga besar Zuriat Ki. Mgs. H. A. Roni Halim yang dimotori oleh MGS Yusuf Baihaqi.

BACA JUGA:KOPZIPS Pertegas Temuan Makam Kuno di Tanjakan PHB, ini Penampakannya!

BACA JUGA:Telusuri Jejak Sejarah MUI di Sumsel, KOPZIPS Dapati Fakta Mengejutkan Korelasi Kesultanan Palembang dan Ulama

Namun, perjalanan ziarah kali ini menyajikan tantangan yang tak biasa.

Makam sang ulama legendaris yang berada di TPU Kandang Kawat, Bukit Lama, Palembang, ternyata berada di area yang kini kondisinya memprihatinkan karena sudah tertutup semak belukar tebal layaknya hutan.

Sosok Besar Pembawa Cahaya Pendidikan Islam

Sosok Masagus KH. Abdul Roni Halim bukanlah ulama sembarangan.

BACA JUGA:Telusuri Jejak Sejarah Masjid Agung Palembang, KOPZIPS Ziarahi Makam Ketua Yayasannya dari Masa ke Masa

BACA JUGA:Penelusuran Jejak Sejarah Unsri Berlanjut, KOPZIPS Ziarahi Makam Dekan Fakultas Hukum dari Masa ke Masa

Beliau merupakan Rais Syuriah PCNU Kota Palembang pada tahun 1940.

Tak hanya aktif di organisasi, peran beliau di dunia pendidikan dan syiar Islam di Palembang sangat membekas.

Kyai Cek Oni adalah pendiri Madrasah Al-Hilaliyah Karang Anyar (yang dahulunya merupakan SRINU atau Sekolah Rendah Islam Nahdlatul Ulama) serta Masjid Diniyah Karang Anyar (yang dahulunya berawal dari Langgar Diniyah).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google