Lautan Jemaah Padati Masjid Nurhasanah Palembang, Ustadz Muamar Ma'ruf Sentil Keras Judi Online
Editor: M Iqbal
|
Sabtu , 01 Aug 2026 - 21:43
Safari Dakwah Kota Palembang yang menghadirkan ulama dan akademisi asal Minangkabau, Ustadz Dr. Muamar Ma'ruf, M.A. Hafizhahullahu ta'ala.--iqbal/koranpalpres.com
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM – Suasana Masjid Nurhasanah yang berlokasi di kompleks Sekolah Islam Faza, Kalidoni, Palembang mendadak tumplek blek pada Sabtu (1/8/2026) siang.
Ribuan kaum muslimin dari berbagai sudut kota Palembang dan sekitarnya tampak antusias memadati lokasi demi menghadiri kegiatan Safari Dakwah Kota Palembang.
Acara spesial ini menghadirkan ulama sekaligus akademisi asal Minangkabau yang berlatar belakang lulusan Universitas Islam Madinah dan IIUM Malaysia, Ustadz Dr. Muamar Ma'ruf, M.A. Hafizhahullahu ta'ala.
Dalam kesempatan kali ini, pakar ilmu Al-Qur'an dan Sunnah yang juga pengasuh Ma'had Markaz Sunnah Nusantara Al-Hijrah Pekanbaru tersebut mengangkat tema yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari: "Keduanya Mesti Ditolong".
BACA JUGA:Catat Waktunya! Jadwal Sholat Palembang 01 Agustus 2026 Terbaru Agar Ibadah Selalu Tepat Waktu
Menolong Korban vs Pelaku Kezaliman, Gimana Caranya?
Tema ceramah yang diangkat oleh Ustadz Muamar sejatinya merujuk pada salah satu bab dalam Kitab Riyadhus Shalihin karya ulama besar ahli hadis, Imam Nawawi.
Beliau mengupas hadis shahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.
Di dalam hadis tersebut, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda agar umatnya menolong orang yang dizalimi sekaligus orang yang menzalimi.
Konsep ini sempat memicu rasa penasaran di kalangan para sahabat Nabi kala itu.
Bagaimana mungkin kita memberikan pertolongan kepada orang yang jelas-jelas sedang berbuat maksiat atau berbuat jahat kepada orang lain?
"Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam menjawab bahwasanya menolong orang yang berbuat zalim adalah dengan cara menghalanginya atau mencegahnya dari berbuat zalim tersebut," terang Ustadz Muamar di hadapan ribuan jemaah yang menyimak dengan khusyuk.
Artinya, membentengi seseorang agar tidak terus-menerus menumpuk dosa kezaliman adalah bentuk bantuan serta kasih sayang terbesar demi keselamatan akhirat mereka.
BACA JUGA:Menyikapi Perselisihan Peringatan Maulid Nabi, Ini Nasehat Bijak Ustadz Syafiq Riza Basalamah
BACA JUGA:Kunci Pembuka Rezeki dan Kesuksesan, Kata Ustadz Khalid Basalamah: Baca Dzikir Ini Setiap Hari
Jadi, menegur teman yang salah itu bukan karena benci, melainkan bentuk pertolongan yang sesungguhnya!
Bahaya Zalim terhadap Diri Sendiri: Belajar dari Kisah para Nabi
Tak hanya menzalimi orang lain, Ustadz Muamar juga mengingatkan bahaya laten dari zalim linafsih alias zalim pada diri sendiri.
Kondisi ini terjadi tatkala seseorang nekat melanggar larangan dan mengabaikan perintah Allah Ta'ala.
Menariknya, Ustadz Muammar menegaskan bahwa jangankan manusia biasa, jajaran para Nabi yang maksum pun tak luput dari ujian dan pernah mengaku telah berbuat zalim ketika secara manusiawi melakukan kekhilafan:
1. Nabi Adam 'Alaihissalam: Mengaku zalim pada dirinya sendiri setelah melanggar larangan Allah T a'ala untuk tidak memakan buah khuldi di surga.
2. Nabi Yunus 'Alaihissalam: Memanjatkan doa pengakuan zalim saat berada di dalam perut ikan paus, setelah melarikan diri dari kaumnya yang enggan menerima dakwah tauhid.
Kisah para Nabi ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran berharga bagi seluruh jemaah. Sifat rendah hati dan bersegera memohon ampunan Allah adalah kunci utama untuk memulihkan diri dari jeratan dosa.
Sentilan Menohok: Stop Kecanduan Game HP dan Ancaman Judi Online!
Di sela-sela ceramahnya, Ustadz Muamar memberikan nasihat dan reminder menohok yang ditujukan khusus untuk generasi muda muslim zaman now.
Beliau menyoroti maraknya penggunaan ponsel pintar yang acap kali disalahgunakan untuk bermain game secara berlebihan hingga melupakan kewajiban ibadah.
Beliau bahkan menceritakan pengalamannya yang bikin miris saat sedang beribadah di Tanah Suci Mekah.
BACA JUGA:7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat, Ustaz Firanda Andirja: Apakah Termasuk Kita?
"Saya sangat miris ketika mendapati seorang jemaah umrah yang justru sibuk bermain game di ponselnya, padahal ia sedang berada tepat di depan Ka'bah," ungkap beliau dengan nada prihatin.
Menurut Ustadz Muamar, kecanduan game di ponsel bukan sekadar membuang-waktu berharga secara sia-sia.
Hal tersebut rupanya rentan menjadi pintu masuk menuju bahaya yang jauh lebih merusak dan menghancurkan masa depan, yaitu judi online (judol).
Oleh karena itu, di akhir kajian beliau mengimbau dengan sangat agar kaum muslimin di Palembang bisa lebih bijak mengelola waktu, melek digital secara positif, serta membentengi keluarga tercinta dari jeratan godaan teknologi negatif.