Begini Cara Ikhtiar Kerabat Kesultanan Palembang Selamatkan BKB

Minggu 24 May 2026 - 15:23 WIB
Reporter : Kurniawan
Editor : Kurniawan

PALEMBANG, KORANAPRES.COM - Puluhan kerabat Kesultanan Palembang Darussalam, budayawan hingga Zuriat di Kota Palembang berkumpul di gedung Kesenian, Sabtu 24 Mei 2026.

Hal ini untuk membudayakan Ratib Samman yang merupakan salah satu kebudayaan yang dibawa oleh Kesultanan Palembang Darussalam. 

"Jadi Ratib Samman ini kita ingin melestarikannya dengan menggelar secara rutin setiap bulan dan ini sudah ke-5 kalinya kita selenggarakan," ujar Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam, Raden Genta Laksana.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetuk langit dengan tujuan bermunajat kepada Allah untuk melembutkan hati dari orang-orang mengaku kepentingan dalam menyelamatkan Benteng Kuto Besak (BKB).

BACA JUGA:Peringatan Penting Setiap Tanggal 17 Oktober: Dari Trauma Sedunia hingga Kebudayaan Nasional

BACA JUGA:Pameran Zine Dakwah Fest 2025, Angkat Kebudayaan Tunggu Tubang Semende

"Kita melakukan kegiatan ini rutin agar bisa dikabulkan oleh Allah, dimana keinginan kita BKB kembali ke masyarakat dan dinikmati semua lapisan masyarakat," katanya.

Bahkan menjadi pusat edukasi dan pariwisata di Kota Palembang. "Kegiatan kita ini diikuti semua elemen masyarakat yang satu pemikiran dengan kita tergabung dalam Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak," jelasnya.

Harapannya dengan kegiatan yang dilakukan ini cagar budaya Nasional BKB agar kembali kepangkuan masyarakat, bisa dinikmati masyarakat secara luar, menjadi tempat sarana edukasi dan pariwisata di Kota Palembang. 

Sementara itu, Budayawan Palembang, Vebri Al Lintani menuturkan, bahwa ini sebagai bentuk perlawanan atas berbagai bentuk pembangunan di kawasan BKB yang berpotensi melanggar Undang-undang Cagar Budaya.

BACA JUGA:Wali Kota Palembang Terima Audiensi IKPM Djaja Yogyakarta, Bahas Asrama hingga Seminar Kebudayaan

BACA JUGA:Kunjungi Museum Negeri Sumsel, Keluarga Pangeran Punto Desak Perbaikan Rumah Limas ke Menteri Kebudayaan

Dimana BKB ini memiliki kedudukan yang istimewa dibangun pada 1780 oleh Sultan Mahmud Badaruddin yang dibangun pada zaman kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam. 

"Benteng ini dibangun oleh pribumi dan menjadi satu-satunya benteng yang besar di Nusantara, untuk itu perlu kita lindungi dengan berbagai upaya dari orang-orang yang hendak merusaknya," ungkapnya.

Sedangkan menurut Ustadz Kgs Mustofa mengatakan, bahwa kegiatan ini tidak lain untuk mengingatkan semua orang, bahwa perjuangan yang dilakukan tidak akan ada hasil tanpa adanya doa.

Kategori :