https://palpres.bacakoran.co/

banner lebaran 4lawang

Puasa Menahan Lapar, Tapi Tidak Menahan Lisan: Refleksi Etika Komunikasi di Bulan Ramadan

Puasa di bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar tapi juga mampu menahan lisan dari perkataan yang tidak baik--sumber foto: chat gpt

Oleh : Dr. Jumanah, S.H,.M.H (Dosen : Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang)

Bulan Ramadan merupakan momentum spiritual yang sangat penting bagi umat Islam.

Ia tidak hanya hadir sebagai kewajiban ritual berupa menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai proses pembinaan diri secara holistik.

Dalam Al-Qur’an, puasa ditegaskan sebagai sarana pembentukan ketakwaan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah: 183).

BACA JUGA:Timeline Penuh Pahala: Ramadan Ala Netizen (Artikel Kurma)

BACA JUGA:Ramadan Sebagai Madrasah Etika Sosial: Dari Ritual Puasa Ke Puasa Moral (Artikel Kurma)

Namun, dalam realitas sosial, puasa sering dipahami secara sempit sebagai aktivitas fisik semata.

Banyak orang berhasil menahan lapar dan haus, tetapi gagal menahan lisan.

Fenomena ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari: gosip, fitnah, ujaran kebencian, sindiran, dan komentar negatif tetap berlangsung, bahkan di bulan suci Ramadan.

Padahal, Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik.

BACA JUGA:Syahru Ramadan: Bulan Penyucian Jiwa dan Penguatan Iman (ARTIKEL KURMA)

BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Ramadan dan Tanggung Jawab Intelektual Umat

Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (H.R. al-Bukhari).

Hadis ini menegaskan bahwa nilai puasa terletak pada pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk dalam menjaga lisan.

Puasa sebagai Pendidikan Jiwa dan Etika Sosial

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan