IWD 2026: Perjuangan Kaum Marginal Harus Terus Berlanjut
Sejumlah narasumber saat hadir dalam diskusi publik yang diinisiasikan oleh Solidaritas Perempuan Palembang dalam rangka memperingati Internasional Women’s Day (IWD) 2026, belum lama ini. Sumber Foto: Khofifah--Ist
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Ruang diskusi bagi kaum marginal di Palembang dalam rangka terus diperjuangkan sebagai bentuk upaya merebut kembali hak dan keadilan yang hilang.
Semangat ini perlu terus ada api pemantik seperti dalam diskusi publik yang memiliki tema “Merebut Kembali Keadilan Ruang Hidup Masyarakat Marginal” yang diinisiasikan oleh Solidaritas Perempuan Palembang dalam rangka memperingati Internasional Women’s Day (IWD) 2026, belum lama ini.
Google Advertisement Below
Acara ini merupakan ruang diskusi yang melibatkan dan mempertemukan berbagai komunitas, pemuda, akademisi, hingga aktivis, dan elemen masyarakat hadir untuk membagikan pengalaman hidupnya. Dan tetap berjuang di tengah berbagai ketimpangan hingga ketidakadilan yang terjadi.
Seorang pejuang perempuan asal Tanjung Pinang, Ogan Ilir, Nafsiah, membagikan pengalaman pahitnya berjalan kakik selama 27 hari demi menuntut haknya, namun justru mendapatkan pelayanan publik yang saling lempar tanggung jawab hingga birokrasi yang berbelit.
BACA JUGA:Ramadhan in Action, HIMASOS Berbagi kepada Masyarakat
BACA JUGA:Mahasiswa Asal Muba Dapat Fasilitas Mudik Gratis, Pemkab Muba Kirim 7 Bus dan 2 Speed Boat
Menanggapi kisah tersebut, Fadila Nur Amalia dari Solidaritas Perempuan Palembang menegaskan komitmen organisasinya dalam mendampingi masya marginal di Palembang.
Sebuah organisasi yang didirikan untuk mendampingi, menemani, dan menguatkan mereka yang tengah berjuang merebut hak-haknya.
Kemudian, dalam diskusi tersebut seorang akademisi Hukum Univer Sriwijaya, Putri Zaltina. Ia memberikan motivasi sekaligus menekankan bahwa perjuangan seperti ini dalam merebut kembali hak yang dirampas adalah langkah konstitusional yang harus terus dilakukan secara kolektif.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari peserta, salah satunya SHM. Ia menilai bahwa diskusi publik ini sangat relevan sebagai pemantik kesadaran.
BACA JUGA:Keripik Pangsit dari Gedebong Pisang, Cemilan dari Rumah BUMN Ogan Ilir
Baik curahan hati, pengalaman pahit, dan sebagainya harus terus disuarakan. Harapannya, diskursus seperti ini tidak hanya berhenti disini, tetapi juga dapat terjadi di ruang-ruang publik lainnya hingga tongkrongan anak muda, agar suara kaum marginal tetap lantang terdengar,” ungkapnya.
Melalui momentum IwD 2026 ini, kegiatan ini dapat terus meningkatkan semangat dan nilai juang bagi kaum marginal dan juga masyarakat Palembang untuk peduli dengan isu-isu sosial, gender, dan ketidakadilan lainnya, sehingga ruang-ruang aman bagi kaum marginal dapat tercipta secara berkelanjutan.