Tafsir Al-Azhar dan Etika Jurnalistik: Menimbang Ulang Tanggung Jawab Informasi di Era Digital
Tafsir AL-Azhar memberikan dasar pemikiran yang kuat untuk memahami pentingnya etika dalam menyampaikan informasi--Sumber: Gemini AI
Oleh: Tri Polina (Mahasiswa MBKM Prodi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Raden Fatah Palembang)
PERKEMBANGAN media digital membuat arus informasi bergerak sangat cepat, jauh melampaui kemampuan banyak orang untuk memeriksa kebenarannya.
Google Advertisement Below
Dalam kondisi seperti ini, informasi sering kali tersebar sebelum sempat diverifikasi. Akibatnya, hoaks dan kesalahpahaman sangat mudah muncul di ruang publik.
Dalam konteks ini, Tafsir Al-Azhar memberikan dasar pemikiran yang kuat untuk memahami pentingnya etika dalam menyampaikan informasi, terutama dalam kaitannya dengan Etika Jurnalistik.
BACA JUGA:Urgensi Tafsir Maudu’i dalam Menghadapi Era Post-Truth: Menakar Integritas Jurnalisme Berbasis Wahyu
BACA JUGA:Apa Arti Bunyi Perkutut Tengah Malam? 8 Tafsir yang Mungkin Belum Anda Dengar
Dalam penafsiran QS. Al-Hujurat ayat 6, Buya Hamka menegaskan bahwa setiap berita harus diperiksa kebenarannya sebelum diterima atau disebarkan.
Menurut Buya Hamka, menerima informasi tanpa klarifikasi dapat menimbulkan kesalahan besar dalam kehidupan sosial, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat.
Karena itu, sikap hati-hati dalam menerima berita merupakan bagian dari tanggung jawab moral setiap individu.
Prinsip ini sangat sejalan dengan kerja jurnalistik modern yang menempatkan verifikasi sebagai tahap paling penting sebelum publikasi berita.
BACA JUGA:Waspada! Banyak Hadits Dhaif dan Palsu Beredar di Bulan Ramadan, Ini Kata 2 Syaikh
Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).