Menyusuri Lorong Kampung Tua, Masak Tepi Sungai Hadirkan Pengalaman Langka Merayakan Warisan Budaya Palembang
Menyusuri Lorong Kampung Tua, Masak Tepi Sungai Hadirkan Pengalaman Langka Merayakan Warisan Budaya Palembang--for Koranpalpres.com
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, sejumlah keterampilan tradisional perlahan mulai menghilang.
Salah satunya adalah keahlian mengolah aluminium secara manual yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan warga Kampung Perigi, Palembang.
Melalui rangkaian acara Masak Tepi Sungai 2026: Kopi & Roti, masyarakat tidak hanya diajak menikmati cerita tentang kuliner dan budaya kopi Palembang, tetapi juga merasakan langsung pengalaman yang kini semakin sulit ditemukan.
Berbagai workshop, tur budaya, hingga aktivitas seni disiapkan untuk membawa peserta lebih dekat dengan kehidupan masyarakat kampung tua di tepian Sungai Musi tersebut.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah Workshop Pembuatan Cetakan Kue Kering Aluminium.
Kegiatan ini menjadi upaya untuk merayakan sekaligus menjaga keberlangsungan keahlian tradisional yang kini semakin langka.
Dahulu, Kampung Perigi dikenal sebagai salah satu sentra perajin aluminium di Palembang.
Berbagai peralatan rumah tangga, mulai dari loyang, cetakan kue, hingga alat masak diproduksi oleh para perajin setempat dan dipasarkan ke berbagai kawasan kota, terutama Pasar 16 Ilir yang menjadi pusat perdagangan masyarakat Palembang.
BACA JUGA:Potret Kampung Arab Al-Munawar, Warisan Budaya yang Terjaga di Tepi Sungai Musi
Namun seiring berkembangnya industri modern dan masuknya produk pabrikan, jumlah perajin aluminium terus berkurang. Kini hanya segelintir orang yang masih mempertahankan keterampilan tersebut.
Melalui workshop ini, peserta akan diajak melihat langsung proses pembuatan cetakan kue berbahan aluminium yang dikerjakan secara tradisional.
Tidak hanya menyaksikan, peserta juga dapat mencoba membuat cetakan sendiri bersama perajin yang telah puluhan tahun menekuni profesi tersebut.
Dengan biaya pendaftaran hanya Rp20.000 per orang, setiap peserta akan membawa pulang tujuh buah cetakan kue kering hasil karya mereka sendiri.