Menjaga Marwah Keraton Kuto Besak dari Ambisi Bisnis: Kritik Budaya Vebri Al Lintani
Ulasan kritis Vebri Al Lintani tentang upaya menjaga marwah Keraton Kuto Besak Palembang di tengah ancaman komersialisasi bisnis kesehatan.--kolase
Esai berjudul "Epos di Tepian Musi: Mempertahankan Marwah Keraton Kuto Besak dari Ambisi Bisnis Kesehatan" ditulis oleh Vebri Al Lintani, Ketua Aliansi Penyelamat Benteng (Keraton) Kuto Besak.
KORANPALPRES.COM - Sungai Musi seolah tak pernah lelah mengalirkan riwayat.
Namun, di tepiannya, sebuah mahakarya masa lampau bernama Keraton Kuto Besak tengah menanti kepastian takdir.
Pada era kolonial Belanda, bangunan ini dilabeli sebagai Benteng Kuto Besak (BKB) yang berdiri bisu.
BACA JUGA: Benteng Kuto Besak Terancam Rusak? Aliansi Penyelamatan BKB Keluarkan Maklumat Keras!
BACA JUGA:TACB Palembang Dukung Kemendikbud Ambil Alih Benteng Kuto Besak dari Kemenhan, ini Alasannya!
Namun, demi mengembalikan napas sejarahnya, esai ini akan menggunakan identitas aslinya: Keraton Kuto Besak (KKB).
Dibangun oleh Sultan Muhammad Bahauddin (ayah Sultan Mahmud Badaruddin II) pada kurun waktu 1780-1797, KKB akan menginjak usia tepat tiga abad pada Februari tahun depan.
Tiga ratus tahun adalah usia yang sangat sepuh—usia yang menghantarkannya pada kondisi rapuh dan sangat rentan terhadap kerusakan fisik.
Pada zamannya, KKB berhasil bertahan melewati gempuran meriam kolonial.
Namun hari ini, KKB harus berhadapan dengan gelombang ancaman baru: kapitalisasi kesehatan berupa perluasan Poliklinik Terpadu Rumah Sakit dr. A.K. Gani yang didorong oleh ambisi Sumsel Health Tourism.
Ironisnya, demi mewujudkan ambisi tersebut, pihak Kesdam II/Sriwijaya telah mendirikan bangunan setinggi 7 lantai yang diduga kuat tidak memiliki izin pendirian bangunan, Andal (Analisis Dampak Lingkungan), maupun Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).