BMKG Catat 1.600 Titik Panas, Puncak Kemarau Diprediksi Agustus-September
BMKG Catat 1.600 Titik Panas, Puncak Kemarau Diprediksi Agustus-September--Gemini AI
KORANPALPRES.COM- Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap dari analisis terbaru, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung pada periode April hingga September.
Dengan karakteristik yang lebih kering dari normal sehingga kondisi tersebut akan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal.
“Sehingga curah hujan berada pada kategori rendah. Artinya, kondisi tahun ini akan lebih kering dibandingkan normal,” ujar Kepala BMKG.
BACA JUGA:Antisipasi Kemarau Ekstrem, Danrem Gapo Pimpin Rakor Percepatan Tanam
BACA JUGA:BMKG Ingatkan Musim Kemarau 2026 Akan Lebih Kering dan Berlangsung Lebih Panjang
Ia menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini juga diperkirakan datang lebih awal dan berdurasi lebih panjang.
Selain itu, terdapat potensi penguatan fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 yang dapat semakin meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
BMKG juga mencatat peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) sejak awal tahun.
Hingga awal April 2026, jumlah hotspot telah mencapai lebih dari 1.600 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
BACA JUGA:Tegas! Ini Kesiapan Polda Sumsel Dalam Hadapi Ancaman Musim Kemarau
BACA JUGA:BPBD OKU Timur Siaga Penuh, Ini Daerah Zona Merah Karhutla Musim Kemarau
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa dinamika iklim global, khususnya fenomena ENSO, menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Pemanasan di wilayah Nino 3.4 berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat, yang dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia dan menyebabkan penurunan curah hujan,” terangnya.