Menjadi prioritas utama dalam meluruskan niat untuk berusaha ikhlas berpuasa karena Allah Swt.
Tidak boleh sedikit pun berkeinginan di hati rasa terbebani dalam menjalankan ibadah puasa tersebut.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Memahami Tiga Fase Keistimewaan Bulan Ramadan, Mari Kita Amalkan
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Toleransi Berniaga Kuliner di Bulan Suci Ramadan
Begitu juga, jangan sekali-kali berpuasa karena merasa malu dengan teman, takut pimpinan, atau berharap dilihat oleh orang lain.
Bila niat ini masih ada dalam diri kita, bisa jadi kita mengatakan melaksanakan berpuasa kepada orang lain, namun sebenarnya kita berdusta karena kenyataannya tidak berpuasa.
Inilah contoh puasa yang hanya sekedar formalitas belaka.
Kedatangan Ramadan harus disambut dengan sukacita dan semagat, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan dilandasi keimanan.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA! Dari Spiritual ke Sosial: Makna Puasa dalam Perspektif Tafsir Maqasidi
Jikalau hal ini dapat diaplikasikan, dengan demikian, ingsyallah kita akan mendapatkan pahala dan ampunan atas dosa-dosa kita yang lalu.
Ini terdapat dalam hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan niat yang tulus dan mengharapkan pahala dari Allah, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
BACA JUGA:Operasi Pasar Ramadan 2025 Penuhi Kebutuhan Ramadan, Warga Sumsel pun Bisa Bernafas Lega
BACA JUGA:Bazar Ramadan Gairahkan UMKM, Wali Kota Palembang Tekankan Pentingnya Kemasan Ramah Lingkungan