Salah satu jalan paling berbahaya dalam kehidupan beragama adalah keyakinan bahwa “jika hidup saya nyaman, berarti saya benar”.
Cara berpikir ini harus ditutup, karena membuka pintu pembenaran maksiat dan kesombongan spiritual.
Islam tidak mengajarkan penilaian iman berdasarkan kenyamanan, tetapi berdasarkan arah hidup dan tanggung jawab moral.
Isra Mi‘raj secara implisit melakukan sadd al-dzarai terhadap cara pandang keliru tersebut.
BACA JUGA:Cuma Gopek, Udah Dapet Tablet! Axioo MyTab R8 Tablet 4G, Terbaik untuk Pelajar 2026
BACA JUGA:Mewah Tapi Murah! Gajah Mada Residence Tawarkan 70 Rumah Subsidi Berkualitas di Karang Jaya
Allah tidak menjadikan kenyamanan dunia sebagai tanda keistimewaan Nabi, agar umatnya tidak salah memahami standar kemuliaan.
Sebaliknya, Nabi diperlihatkan bahwa kedekatan tertinggi dengan Tuhan justru lahir dari keteguhan dalam ujian.
Dalam konteks kehidupan modern, pelajaran ini semakin relevan.
Di era media sosial, kesuksesan materi sering dipamerkan sebagai simbol keberhasilan hidup dan bahkan kesalehan.
BACA JUGA:Huawei MatePad 11.5 2025 Dalam Genggaman: Solusi Kerja Mobile Paling Worth It
BACA JUGA:Sinergi Penegak Hukum, PN Baturaja Pantau Langsung Program Pembinaan Rutan
Tanpa disadari, hal ini membentuk mentalitas bahwa nikmat adalah legitimasi, dan ujian adalah kegagalan. Padahal, cara pandang semacam ini bertentangan dengan spirit Isra Mi‘raj dan tujuan syariat.
Bagi umat Islam hari ini, Isra Mi‘raj mengajarkan keberanian untuk membaca hidup secara jujur.
Ketika hidup terasa berat, jangan tergesa-gesa berburuk sangka kepada Tuhan.
Bisa jadi, itulah fase ibtila yang sedang mempersiapkan kenaikan derajat.