Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan selama Ramadan.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Momentum Idul Fitri Dalam Merawat Silaturahmi Masyarakat Indonesia
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Idul Fitri dan Konsumerisme
Meski demikian, media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Jika dimanfaatkan dengan bijak, media sosial justru dapat menjadi sarana penyebaran kebaikan.
Beragam konten dakwah, kajian singkat, pengingat ibadah, hingga ayat Al-Qur’an dengan tampilan menarik dapat membantu meningkatkan pemahaman dan semangat beribadah. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa membagikan konten positif dan bermanfaat di media sosial merupakan salah satu bentuk amal kebaikan.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Refleksi Nuzulul Quran : Wahyu sebagai Katalis Perubahan Sosial
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Zakat Fitrah dan Hikmah Pensyariatannya
Setiap pesan kebaikan yang dibagikan berpotensi menjadi pahala jariyah selama konten tersebut memberikan manfaat kepada orang lain.
Namun, tantangan terbesar Ramadan ala netizen adalah menjaga diri dari kelalaian.
Media sosial sering kali membuat waktu terbuang tanpa disadari. Niat awal untuk mencari informasi bermanfaat dapat berubah menjadi kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan: “Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.” (HR. Al-Hakim)
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Meraih Keutamaan Malam Lailatul Qadar di 10 Terakhir Ramadan
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Hakikat Sahur dan Batas Waktu Imsak Menurut Ulama
Selain itu, perbedaan pendapat di media sosial kerap memicu perdebatan yang tidak sehat, bahkan menimbulkan emosi dan permusuhan.