OPINI: Desa Tidak Memakai Dolar, Tapi Menanggung Dampaknya

Minggu 17 May 2026 - 17:19 WIB
Reporter : Trisno Rusli
Editor : Trisno Rusli

Padahal, salah satu tantangan terbesar negara berkembang seperti Indonesia adalah tingginya keterkaitan ekonomi domestik dengan dinamika global.

Ketergantungan terhadap impor pangan, energi, bahan baku industri, dan distribusi nasional membuat pelemahan rupiah selalu memiliki efek berantai terhadap masyarakat bawah, termasuk di desa-desa.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan desa Indonesia masih menghadapi persoalan struktural yang belum sepenuhnya selesai.

BACA JUGA:Legalitas Sumur Minyak Rakyat Dinilai Pakar Bisa Kembalikan Triliunan Rupiah Potensi Pajak yang Hilang

BACA JUGA:SAKSIKAN! Kolaborasi Karang Taruna dan Pemdes Nanjungan Lahat Helat Open Turnamen Bola Voli Jutaan Rupiah

Desa memang menjadi simbol kekuatan ekonomi lokal, tetapi fondasi ekonominya masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal.

Ketahanan ekonomi desa belum benar-benar dibangun di atas kemandirian produksi, efisiensi distribusi, dan stabilitas energi domestik.

Selama struktur ekonomi nasional masih bergantung pada pasar global, maka desa akan tetap menjadi bagian dari pusaran dampak ekonomi internasional.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan terletak pada apakah masyarakat desa memakai dolar atau tidak, melainkan sejauh mana negara mampu melindungi masyarakat desa dari dampak fluktuasi ekonomi global.

BACA JUGA:Ciri Perkutut Katuranggan Ini Bikin Kolektor Kepincut, Harganya Tembus Ratusan Juta Rupiah, Cek Peliharaanmu!

BACA JUGA:3 Daerah yang Jadi Raja Sarang Walet Terbesar di Indonesia, Potensi Ekspor Miliaran Rupiah per Tahun

Negara tidak cukup hanya membangun optimisme melalui retorika politik, tetapi juga harus memperkuat fondasi ekonomi rakyat melalui stabilisasi harga, penguatan produksi lokal, hilirisasi pertanian, serta pengurangan ketergantungan impor.

Kategori :