Upacara Adat di Provinsi Sumatra Selatan: Bentuk Kearifan Lokal Mengelola SDA
Upacara bubus tebat, sebagai simbol kearifan lokal masyarakat Suku Besemah di Sumatra Selatan dalam menjaga alam-timeindonesia-
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Upacara adat dan tradisi di Provinsi Sumatra Selatan sangat beragam dan kaya akan makna, mencakup berbagai ritual tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini secara turun temurun dan menjadi ciri khas daerah tersebut.
Beberapa upacara adat itu berasal dari kebijaksanaan para pendahulu sebagai bentuk kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam dan bentuk konservasi tradisional sekaligus mewujudkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Dilansir dari berbagai sumber, beberapa upacara adat yang ada di Sumatra Selatan di antaranya:
1. Upacara Adat Bekarang Iwak
Bekarang Iwak dalam bahasa Palembang memiliki arti menangkap ikan. Upacara adat ini berasal dari kota Palembang, tepatnya di kecamatan Gandus, merupakan suatu perwujudan rasa syukur atas aliran sungai yang memberi masyarakat mata pencaharian dan untuk menghormati leluhur. Tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali.
BACA JUGA:Inilah Ragam Upacara Adat di Provinsi Jambi yang Kaya dan Menarik
BACA JUGA:Upacara Adat Basuh Lantai dan Tradisi Lain di Provinsi Kepulauan Riau
Diawali dengan upacara adat kuno untuk menghormati leluhur dan mencurahkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, kemudian dilanjutkan dengan menangkap ikan bersama seluruh masyarakat di sungai bertujuan sebagai sarana mempererat tali persaudaraan dan kerukunan di tengah masyarakat dan sebagai perwujudan ucapan syukur. Hasil tangkapan ikan boleh untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama.
2. Mbubus Tebat Besak di masyarakat Besemah di Kota Pagaralam
Bubus Tebat adalah salah satu tradisi budaya warisan leluhur di Sumatra Selatan (Sumsel) yang cukup unik terutama di kalangan masyarakat suku Besemah di seputaran Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat. Beberapa dusun di Pagar Alam, salah satunya Desa Bantunan, Kecamatan Pajar Bulan, perbatasan Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahatyang turut melestarikan tradisi memanen ikan di tebat (sejenis danau).
Acara bubus tebat merupakan warisan leluhur atau puyang yang sangat bagus dan bermanfaat sekali sebagai bentuk kearifan lokal mengelola sumber daya alam atau SDA, menjaga leluhur untuk mensyukuri karunia Tuhan dan juga bentuk konservasi tradisional atau kearifan lokal dalam menjalani kesepakatan mematuhi aturan menjaga sumber daya alam dengan melarang mengambil ikan di tebat dalam jangka waktu tertentu kecuali dipanen (dibubus) bersama-sama.
3. Upacara Adat Tepung Tawar
BACA JUGA:Ragam Upacara Adat di Provinsi Riau Ini Masih Eksis Sampai Kini
BACA JUGA:Upacara Adat Khas di Provinsi Sumatra Barat, Ada Tabuik di Pariaman dan Pasipiat Sot di Mentawai