Menolak Lupa! Jejak Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro Palembang, ini Kata Peneliti Sejarah HG Sutan Adil
makam Kapiten Bong Su ini rusak parah saat terjadi beberapa kali Perang Benteng di Palembang.--dokumentasi pribadi
Artikel berjudul “Terlupakan; Jejak Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro Palembang” ditulis oleh HG Sutan Adil, pemerhati dan peneliti sejarah dari Sutanadil Institute.
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM – Di masa awal berdirinya, Kerajaan Palembang yang berkuasa 1445-1659, hubungan Diplomatik dan Perdagangan dengan Dinasti Islam Tiongkok, Dinasti Ming (1368-1644), adalah sangatlah erat.
Hubungan Dinasti Ming dengan Palembang bertambah erat lagi setelah Kaisar Yongle berkuasa (1402-1424) yaitu dengan mengirimkan armada muhiba dan kehadiran Laksamana Jin Ha/Zheng He/Cheng Ho dan rombongannya ke Palembang hingga berdirinya Keraton Kuto Gawang.
Kunjungan muhibah 4 kali Laksamana Cheng Ho ke Palembang diperkirakan terjadi dalam beberapa periode yang relatif berdekatan, yaitu pada tahun 1405, 1407, 1413, dan 1430 M dengan terdiri dari 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 orang.
Tercatat, perjalanan laut Cheng Ho ini tidak hanya singgah di Palembang saja, tetapi juga ke berbagai wilayah di Nusantara, seperti Aceh, Batam, Belitung, Jakarta, Semarang, Cirebon, Surabaya, dan Bali.
Jika ditotal secara keseluruhan dalam mengelilingi dunia, kunjungan muhibah ini berjumlah sebanyak 7 kali kunjungan.
Dengan kondisi demikian, membuat kaisar dan para petinggi dinasti Ming lebih terfokus dan konsentrasi untuk melakukan hubungan baik ke berbagai bangsa di dunia.
Dan tercipta perdagangan yang sibuk serta bersaing dengan bangsa Arab, India, dan berbagai bangsa di Asian Tenggara lainnya.
BACA JUGA:Mengenal 5 Fakta Menakjubkan Pulau Kemaro, Destinasi Wisata di Palembang yang Populer!
BACA JUGA:Cerita di Balik Pulau Kemaro, Mirip Kisah Romeo dan Juliet Versi Sumatera Selatan
Hal ini pula yang mengakibatkan kehidupan rakyatnya di daratan Tiongkok sendiri kurang mendapat perhatian penuh.
Sehingga terjadi perlawanan dan pemberontakkan terhadap kaisar Dinasti Ming terakhir, Kaisar Chongzhen (1627-1644 M), yang dipimpin para jenderal yang membelot.