https://palpres.bacakoran.co/

Peneliti Sejarah HG Sutan Adil Ungkap Misteri Makam Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro, Ternyata…

MAKAM KERAMAT | Sumber Sejarah yang sangat penting untuk memastikan bahwa makam keramat yang ada di Pulau Kemaro itu adalah makam Kapiten Bong Su We.-Ist/koranpalpres.com-

Artikel berjudul “Terkuak, Makam Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro” ini ditulis oleh HG Sutan Adil, pemerhati dan peneliti sejarah dari Sutanadil Institute.

PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Pulau Kemaro merupakan sebuah delta yang terletak di tengah-tengah Sungai Musi yang membelah Kota Palembang, terletak ke arah hilir yang memiliki luas 79 Ha dengan ketinggian 5 m dpl. 

Pulau ini berseberangan dengan daerah Plaju dan Bagus Kuning bagian di selatannya.

Secara harfiah, Kemaro sendiri berasal dari bahasa Palembang, yang berarti "kemarau". 

BACA JUGA:Menolak Lupa! Jejak Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro Palembang, ini Kata Peneliti Sejarah HG Sutan Adil

BACA JUGA:Bukan Hanya Laksamana Cheng Ho, Sosok Shi Jin Qing Punya Andil Ikut Menumpas Bajak Laut Tionghoa di Palembang

Menurut penduduk setempat, dinamakan Pulau Kemaro karena pulau ini tidak pernah digenangi air walau volume air Sungai Musi dalam keadaan tinggi, artinya Pulau Kemaro akan tetap dalam kondisi kering. 

Karena keunikan inilah, penduduk sekitarnya menjulukinya Pulau Kemaro.

Selain adanya komunitas penduduk lokal dan Penginapan atau Cottage milik Pemerintah Kota, di Pulau Kemaro ini juga terdapat bangunan khas Tiongkok seperti Pagoda berlantai 9 yang dibangun tahun 2006.

Terlebih ada pula Klenteng Hok Tjing Rio (Klenteng Kwan Im) yang dibangun sejak tahun 1962, yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi sebuah Vihara/Klenteng Yayasan Toa Pek Kong Pulau Kemaro, tempat Ibadat Tridharma Hok Tjing Bio Sumatera Selatan.

BACA JUGA:Sengketa Kepemilikan Lahan Pulau Kemaro Mencuat, Pemkot Palembang Siap Cari Solusi Damai dan Berkeadilan

BACA JUGA:Pelatihan Tari Tradisional di Gorontalo, BPK Wilayah VI Ajak 2 Seniman Tari Perwakilan Maestro Sumsel

Keberadaan bangunan khas Tiongkok ini dan dibangunnya sebuah Klenteng atau Vihara ajaran Tridharma itu karena mereka beranggapan bahwa di dalam pulau ini terdapat makam keramat yang dipercaya sebagai nenek moyang atau leluhur umat Tridharma yang keberadaanya sudah ada sejak dahulu. 

Ajaran Tridharma atau disebut Sam Kauw dalam bahasa Hokkien, secara harfiah berarti tiga ajaran yaitu Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan