Workshop Ini Jadi Yang Perdana di Museum Sriwijaya, Tentang Apa Itu?
Museum Sriwijaya Palembang menggelar perdana Workshop Jumputan yang diikuti oleh ibu-ibu PKK Kelurahan Karang Anyar dan perwakilan sekolah di sekitar lingkungan Museum yang dilakukan foto bersama.--Kurniawan/Koranpalpres.Com
Ia berharap kegiatan yang positif dilakukan ini dapet terus berlanjut dan juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Sedangkan salah satu narasumber, Nuzulul Ramadhona menerangkan, bahwa selain kain songket, kota tua ini juga memilik budaya Kain jumputan.
BACA JUGA:Bongkar Misteri Prasasti Siddhayatra, Museum Sriwijaya TWKS Gandeng 5 Narasumber
Kain Jumputan adalah salah satu kebudayaan kain tradisional Palembang dengan cara celup ikat. Dimana sejarah Jumputan ini berasal dari Cina pada abad ke 7-8 mengenalkan kain Sutera dan benang Jawa.
Kain jumputan dikenal kain cinde pengaruh Jawa di Palembang membawah pengaruh kain budaya kisaran abad ke 16 M Palembang menyebut Kain jumputan dengan kain Pelagi.
"Kita sendiri memiliki berbagai cara dalam pelestarian Jumputan ini di Sumsel," bebernya. Seperti melakukan pelatihan dan Pameran Jumputan.
Kemudian promosi Jumputan Palembang baik tokoh dan pemerintah , mengajukan kain Jumputan Sebgai WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) Indonesia dan Dunia.
BACA JUGA:Polda Sumsel Gelar 3 Kegiatan Sekaligus di TWKS Palembang
BACA JUGA:Tempatkan Replika Prasasti Baturaja di Sini, Niatan TWKS Patut Diacungi 2 Jempol
Bahkan juga membantu Sektor Pertumbuhan Ekonomi Kreatif kota maupun Provinsi -Kain Jumputan Budaya harus dinamis dan inovatif dari para pengrajin jumputan.