https://palpres.bacakoran.co/

Dari Asiprasi ke Anarkisme, Demonstrasi Berujung Ricuh Mengundang Tanya Mahasiswi Universitas Andalas

Dari Asiprasi ke Anarkisme: Mengapa Demonstrasi Berujung Ricuh?--

Artikel berjudul "Dari Asiprasi ke Anarkisme: Mengapa Demonstrasi Berujung Ricuh?" ini ditulis oleh Dinda Dwi Apriliani, mahasiswi Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

KORANPALPRES.COM - Demonstrasi merupakan salah satu bentuk ekspresi politik masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, kritik, maupun tuntutan terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam sistem demokrasi, aksi demonstrasi dijamin oleh konstitusi sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dan hak untuk berkumpul secara damai.

Namun dalam praktiknya, tidak jarang aksi yang awalnya berlangsung tertib dan damai justru berubah menjadi ajang kekacauan, penjarahan, serta tindakan anarkis yang merugikan masyarakat dan mencederai esensi demokrasi itu sendiri.

BACA JUGA:Mahasiswi Universitas Andalas Kaji Partisipasi Politik dari Musyawarah Nagari ke Era Digital di Sumatra Barat

BACA JUGA:Mahasiswi Universitas Andalas Ungkap Pengaruh Komunikasi Generasi Muda di Media Sosial terhadap Gerakan Protes

Fenomena ini juga terlihat pada gelombang demonstrasi yang terjadi pada Agustus hingga September lalu.

Di mana semangat perjuangan sebagian massa berubah menjadi tindakan destruktif yang jauh dari nilai-nilai aspiratif.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa demonstrasi yang seharusnya menjadi sarana penyampaian aspirasi justru sering kali berujung ricuh dan anarkis?

Salah satu faktor utama yang menyebabkan demonstrasi berujung ricuh adalah akumulasi ketegangan sosial dan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang tidak tersalurkan secara efektif.

BACA JUGA:Apatisme Politik, Mahasiswi Universitas Andalas Anggap sebagai Ancaman Diam-diam bagi Demokrasi

BACA JUGA:Mahasiswi Universitas Andalas Endus Fakta Baru Kasus Keracunan MBG di Tanah Air, Kontaminasi atau Kelalaian?

Ketika kanal komunikasi antara masyarakat dan pemerintah tidak berjalan dengan baik, aspirasi yang seharusnya disampaikan melalui dialog konstruktif akhirnya tumpah ke jalan dengan emosi yang meluap.

Dalam konteks ini, demonstrasi menjadi simbol frustrasi kolektif terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil atau merugikan rakyat.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan