Dari Asiprasi ke Anarkisme, Demonstrasi Berujung Ricuh Mengundang Tanya Mahasiswi Universitas Andalas
Dari Asiprasi ke Anarkisme: Mengapa Demonstrasi Berujung Ricuh?--
Artikel berjudul "Dari Asiprasi ke Anarkisme: Mengapa Demonstrasi Berujung Ricuh?" ini ditulis oleh Dinda Dwi Apriliani, mahasiswi Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.
KORANPALPRES.COM - Demonstrasi merupakan salah satu bentuk ekspresi politik masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, kritik, maupun tuntutan terhadap kebijakan pemerintah.
Dalam sistem demokrasi, aksi demonstrasi dijamin oleh konstitusi sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dan hak untuk berkumpul secara damai.
Namun dalam praktiknya, tidak jarang aksi yang awalnya berlangsung tertib dan damai justru berubah menjadi ajang kekacauan, penjarahan, serta tindakan anarkis yang merugikan masyarakat dan mencederai esensi demokrasi itu sendiri.
Fenomena ini juga terlihat pada gelombang demonstrasi yang terjadi pada Agustus hingga September lalu.
Di mana semangat perjuangan sebagian massa berubah menjadi tindakan destruktif yang jauh dari nilai-nilai aspiratif.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa demonstrasi yang seharusnya menjadi sarana penyampaian aspirasi justru sering kali berujung ricuh dan anarkis?
Salah satu faktor utama yang menyebabkan demonstrasi berujung ricuh adalah akumulasi ketegangan sosial dan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang tidak tersalurkan secara efektif.
BACA JUGA:Apatisme Politik, Mahasiswi Universitas Andalas Anggap sebagai Ancaman Diam-diam bagi Demokrasi
Ketika kanal komunikasi antara masyarakat dan pemerintah tidak berjalan dengan baik, aspirasi yang seharusnya disampaikan melalui dialog konstruktif akhirnya tumpah ke jalan dengan emosi yang meluap.
Dalam konteks ini, demonstrasi menjadi simbol frustrasi kolektif terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil atau merugikan rakyat.