Budaya Politik Indonesia di Era Digital, ini Komentar Nyinyir Mahasiswa Universitas Andalas
Budaya Politik Indonesia di Era Digital: Antara Partisipasi Demokratis dan Polarisasi Publik--
Artikel berjudul "Budaya Politik Indonesia di Era Digital: Antara Partisipasi Demokratis dan Polarisasi Publik" ditulis oleh Didi Rizky Putra, mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.
KORANPALPRES.COM - Budaya politik merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan bernegara.
Karena mencerminkan cara pandang, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap sistem politik yang berlaku.
Dalam konteks ilmu politik, Gabriel Almond dan Sidney Verba menjelaskan bahwa budaya politik adalah pola orientasi individu terhadap sistem politik.
BACA JUGA:Konflik Politik dan Identitas, Mahasiswi Universitas Andalas Sebut Luka Lama yang Terus Diwariskan
Mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan evaluatif (penilaian) terhadap kehidupan politik.
Budaya politik dapat berbentuk parokial (rendahnya kesadaran politik), kaula (kesadaran politik terbatas), dan partisipan (kesadaran politik aktif).
Di Indonesia, ketiga bentuk ini masih dapat ditemukan secara bersamaan, menciptakan karakter budaya politik yang campuran atau mixed political culture.
Perkembangan budaya politik di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang sistem pemerintahan dan perubahan rezim.
BACA JUGA:Dari Tepian Danau Singkarak, Ulasan Apik Mahasiswi Universitas Andalas tentang Tanjung Sawah Malalo
Pada masa Orde Baru, misalnya, masyarakat cenderung berada dalam budaya politik kaula.
Di mana partisipasi politik dikontrol ketat oleh pemerintah dan loyalitas terhadap pemimpin lebih diutamakan dibandingkan pada nilai demokratis.