Perang Benteng Keempat, Peneliti HG Sutan Adil Sebut Moment Kekalahan Kedua Hindia Belanda dari Palembang
Perang Benteng Keempat bukan hanya kisah konflik bersenjata, melainkan cermin keteguhan Palembang dalam mempertahankan kedaulatannya.--internet
Artikel berjudul “Perang Benteng Keempat – Kekalahan Kedua Hindia Belanda dari Palembang” ditulis oleh HG Sutan Adil, Pemerhati dan Peneliti Sejarah dari Sutan Adil Institute.
KORANPALPRES.COM - Setelah mundur dan kalahnya armada Hindia Belanda dari Palembang pada Perang Benteng Ketiga sebelumnya.
Sultan Mahmud Badaruddin II memerintahkan segala priyayi, prajurit dan rakyatnya untuk bersiap dalam menghadapi serangan selanjutnya dari Hindia Belanda sebagaimana sudah dijelaskan di Perang Benteng Ketiga sebelumnya.
Rencana yang berupaya memulihkan wibawa militernya setelah kekalahan sebelumnya dan dengan penambahan personil dan armada yang besar.
Namun sebagaimana perang terdahulu, Palembang kembali menunjukkan bahwa kekuatan kolonial Eropa tidak serta-merta unggul ketika berhadapan dengan sistem pertahanan sungai dan benteng yang telah teruji.
Perang Benteng Keempat merupakan kelanjutan dari konflik terbuka antara Kesultanan Palembang Darussalam dan Hindia Belanda yang mengalami kekalahan telak pada Perang Benteng Pertama 12-19 Juni 1819.
Jika Perang Benteng Ketiga telah memperlihatkan kegagalan Hindia Belanda dalam menundukkan Palembang.
Maka Perang Benteng Keempat justru menegaskan satu hal penting: Palembang bukan sekadar bertahan, tetapi mampu mematahkan agresi kolonial untuk kedua kalinya.
Kesiapan Perang di Palembang dan Persiapan Hindia Belanda
Setelah mundur dan kalahnya armada Hindia Belanda dari Palembang pada Perang Benteng Ketiga sebelumnya.
SMB II memerintahkan segala priyayi, prajurit dan rakyatnya untuk bersiap dalam menghadapi serangan selanjutnya dari Holanda sebagaimana sudah dijelaskan di Perang Benteng Ketiga sebelumnya.