Isra Mi‘raj, Ujian Hidup dan Cara Membaca Nikmat
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi pelajaran besar tentang Allah mendidik manusia melalui ujian, nikmat dan tujuan hidup yang lebih luas--sumber foto: chat gpt
Istidraj adalah keadaan ketika seseorang terus diberi nikmat, meskipun ia berada dalam kesalahan, sehingga nikmat itu justru melalaikan dan menjauhkannya dari kesadaran.
Sebaliknya, ibtila adalah ujian yang mengandung pesan pendidikan, peringatan, dan peluang perbaikan diri.
Jika Isra Mi‘raj dipahami melalui lensa ini, maka jelas bahwa Nabi Muhammad SAW tidak “dibalas” atas penderitaannya dengan kenyamanan dunia, tetapi dipersiapkan secara spiritual untuk menerima amanah besar: shalat.
Google Advertisement Below
BACA JUGA:REWARD! KPN Pertanian Lahat Raih Penghargaan Nomor 3 Tercepat Helat RAT, Segini Capaian Omset
Menariknya, shalat sebagai kewajiban utama umat Islam tidak diturunkan di tengah pesta dan kemewahan, melainkan dalam konteks penderitaan dan perjuangan.
Ini menunjukkan bahwa shalat adalah sarana menjaga keteguhan iman di tengah ujian, bukan sekadar simbol keberhasilan duniawi.
Dalam perspektif maqasid al-shariah, tujuan utama syariat adalah menjaga agama, akal, dan moral manusia.
Jika suatu kondisi baik nikmat maupun ujian mengantarkan manusia kepada tujuan-tujuan tersebut, maka ia bernilai maslahat.
BACA JUGA:LPA Beri Dukungan Penuh Kepada Kajari OKUT Untuk Menegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu
Sebaliknya, jika suatu kondisi justru merusak kesadaran beragama, melumpuhkan akal sehat, dan menumbuhkan kesombongan, maka ia menjadi mafsadah, meskipun tampak menyenangkan.
Dengan kacamata maqasid, kelapangan hidup yang menjauhkan manusia dari shalat, kejujuran, dan tanggung jawab sosial tidak lagi bisa disebut sebagai nikmat sejati.
Ia bisa berubah menjadi istidrāj, yakni nikmat yang menipu. Sebaliknya, kesulitan hidup yang melahirkan taubat, kesadaran, dan kedekatan dengan Tuhan justru sejalan dengan tujuan syariat.
Di sinilah pentingnya konsep sadd al-dzarai yaitu menutup jalan menuju kerusakan.