ARTIKEL KURMA: Ramadan dan Tulus Pengabdian dalam Pencerahan Spiritual
ibadah puasa di bulan Ramadan mengarah kepada ketulusan hanya untuk Allah subhanahu wata'alla--sumber foto: chat gpt
Oleh: H. Ikhwan Fikri, Lc., LL.M. (Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang)
Allah swt telah mengkhususkan ramadan dengan keistimewaan dan karakteristik yang tidak ditemukan dalam ibadah-ibadah lainnya, sampai-sampai Allah berfirman tentangnya dalam sebuah hadits qudsi:
“Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala kepadanya.”
Mengapa demikian? Dan apa rahasia di balik penghormatan terhadap bulan Ramadan dengan keistimewaan ini?
BACA JUGA:Sidak di Pasar Lemabang, Harga Sembako Masih Stabil
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Ciri-Ciri Wanita yang Dirindukan Surga
Ibadah merupakan kegiatan yang seharusnya dihayati seseorang dalam kehidupannya.
Setiap perbuatan, meskipun perbuatan itu sudah dianggap baik secara umum; akan menjadi sia-sia dan hilang nilai kemuliaannya di sisi Sang Pencipta jika tidak disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas.
Harus dihindari jika niat dalam ibadah adalah bertujuan agar Allah dapat memberikan keinginan atau kebutuhan saja karna suatu pemberian itu dapat menjadi fatamorgana istidraj menuju kedustaan dunia yang fana.
Sudah seharusnya niat dalam ibadah adalah bertujuan ikhlas dan tulus untuk mengharap ridha Allah karna pemberian yang datang dan bersumber dari ridha Allah sudah pasti itu karna rahmat kasih sayang dari-Nya.
BACA JUGA:Ramadan dan Spirit Taubat Dalam Hukum Pidana Islam: Dari Pembalasan Menuju Perbaikan (Artikel Kurma)
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Menjaga Kualitas Puasa di Era Digital
Puasa Ramadan adalah bentuk ibadah yang dianggap lebih mengarah dan melatih diri kepada ketulusan dari ibadah di luar ramadan.
Karena Ramadan mencakup hal-hal ketaatan dalam meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan dalam waktu-waktu atau bulan-bulan yang lain.
