I‘Tikaf Sepuluh Hari Terakhir Ramadan: Waktu Terbaik Mendekat Kepada Allah SWT
I‘tikaf bukan sekadar keberadaan fisik di masjid, melainkan niat dan orientasi ibadah yang menyertainya.--sumber foto: chat gpt
Oleh: Dra. Napisah M.Hum
Ramadan adalah bulan pendidikan ruhani. Sejak awal bulan, kaum Muslimin ditempa melalui puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Namun, puncak dari seluruh proses pembinaan tersebut terletak pada sepuluh hari terakhir.
Di fase inilah Rasulullah menunjukkan kesungguhan yang lebih besar dibanding hari-hari sebelumnya.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Puasa Antara Qadha dan Fidyah dalam Perspektif Fiqh Ibadah
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Fadhilah Membaca Alquran di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan 1447 H bulan yang ditunggu umat muslim seluruh dunia karena bulan ini sebagai tamu yang agung, hanya datang satu tahun sekali yang memiliki kemulian dan keutamaan terutama dalam meningkatkan kualitas ibadah manusia.
Terutama puncak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, hari-hari ampunan Itqu Minan nar (Terpelihara dari api Neraka).
Dalam riwayat Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan meningkatkan keseriusan dalam ibadah (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj). Salah satu bentuk kesungguhan itu adalah i‘tikaf.
Dasar Syariat dan Praktik Rasulullah
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Ramadan dan Makna Kesederhanaan
BACA JUGA:Salat di Bulan Ramadan: Harus Disertai Rasa Sayang dan Takut (Artikel Kurma)
I‘tikaf secara bahasa berasal dari kata yang bermakna menetap, bertahan, atau terus berada pada sesuatu.
Dalam pengertian syariat, para ulama menjelaskan bahwa i‘tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam rentang waktu tertentu dengan niat khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai bentuk ibadah.
Dengan demikian, unsur terpenting dalam i‘tikaf bukan sekadar keberadaan fisik di masjid, melainkan niat dan orientasi ibadah yang menyertainya.
