ARTIKEL KURMA: Ramadan dan Makna Kesederhanaan
Ramadan mengingatkan bahwa ilmu sejatinya tidak dibangun di atas ambisi berlebihan, melainkan pada kejujuran, ketekunan, dan kerendahan hati serta kesederhanaan--sumber foto: chat gpt
Oleh : Dr. Eti Yusnita, S,Ag.,M.H.I (Dosen Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang)
Bulan suci Ramadan selalu datang membawa suasana reflektif, ia bukan sekadar perubahan pola makan dan ibadah ritual, tetapi juga momentum untuk menata kembali cara hidup.
Di tengah budaya kompetisi dan pencapaian yang sering diukur dengan angka dan simbol material, Ramadan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak selalu terletak pada kemewahan, melainkan pada kesederhanaan sikap dan kejernihan.
Puasa melatih pengendalian diri, menahan lapar, dahaga, dan dorongan emosional.
BACA JUGA:Salat di Bulan Ramadan: Harus Disertai Rasa Sayang dan Takut (Artikel Kurma)
BACA JUGA:(Artikel Kurma) Ontologi Ramadan: Bulan Humanities
Dari proses itu tumbuh kesadaran bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Kesederhanaan dalam Ramadan berarti hidup secukupnya, berpikir jernih, dan tidak berlebihan dalam bertindak.
Nilai ini penting, terutama di era yang sering mendorong gaya hidup konsumtif dan serba instan.
Makna kesederhanaan juga tampak dalam hubungan sosial, Ramadan mengasah empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Dari rasa lapar yang kita alami, lahir kepekaan untuk berbagi, kesederhanaan bukan hanya tentang apa yang kita kurangi, tetapi tentang apa yang kita bagi.
BACA JUGA:Artikel Kurma: Menakar Makna Nuzulul Qur'an Dengan Kesalehan Ritual dan Keasingan Sosial
BACA JUGA:Artikel Kurma: Paradigma Antara Ramadan Berkah Dan Musibah
Di sinilah Ramadan mempertemukan spiritualitas dengan kepedulian sosial.
Kesederhanaan memiliki arti yang lebih dalam, dunia pendidikan sering kali diwarnai persaingan prestasi, gelar, dan pengakuan.