Hari Raya Nyepi, Sunyi yang Sarat Makna dan Refleksi Diri
Hari Raya Nyepi bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan juga sebuah refleksi kehidupan yang sarat makna--sumber foto: chat gpt
PALEMBANG, KORANPALPRES.COM - Hari Raya Nyepi merupakan salah satu perayaan keagamaan umat Hindu yang memiliki makna mendalam, khususnya bagi masyarakat Bali.
Berbeda dengan perayaan hari besar lainnya yang identik dengan kemeriahan, Nyepi justru dirayakan dengan suasana hening, sunyi, dan penuh perenungan.
Google Advertisement Below
Momen ini menjadi waktu untuk melakukan introspeksi diri serta menyucikan hati dan pikiran.
Nyepi menandai pergantian Tahun Baru Saka dalam kalender Hindu.
BACA JUGA:Petani di OKU Timur Ditangkap, Simpan Sabu 54 Gram Diduga Bagian Jaringan Narkoba Besar
BACA JUGA:500 Personel Disiagakan Amankan Pemudik di Palembang, Sekda Tinjau Posko Lebaran
Perayaan ini biasanya jatuh pada bulan Maret, namun tanggalnya berubah setiap tahun mengikuti perhitungan kalender tersebut.
Sebelum memasuki hari Nyepi, umat Hindu terlebih dahulu melaksanakan serangkaian ritual yang penuh makna, salah satunya adalah upacara Melasti.
Dalam prosesi ini, umat Hindu pergi ke laut atau sumber air untuk menyucikan diri dan berbagai perlengkapan upacara.
Selain Melasti, terdapat pula tradisi yang sangat menarik perhatian, yaitu pawai ogoh-ogoh.
BACA JUGA:Wah! Ojol di Lubuklinggau Jadi Mitra Polisi, Ini Peran Barunya
BACA JUGA:(Artikel Kurma) Halal Bihalal: Budaya Islam Nusantara yang Relevan Sepanjang Zaman
Ogoh-ogoh merupakan patung besar yang melambangkan sifat-sifat buruk atau energi negatif dalam diri manusia.
Patung ini diarak keliling desa dengan iringan musik tradisional sebelum akhirnya dibakar.