OPINI: Desa Tidak Memakai Dolar, Tapi Menanggung Dampaknya
Orang desa memang tidak memakai dolar namun masyarakat desa tetap hidup dalam pengaruh ekonomi internasional--Ist
Oleh: Rahmat Rafinzar, S.I.P., M.A.P. (Akademisi FISIP UNSRI)
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa “orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok!” memantik perdebatan publik.
Google Advertisement Below
Di satu sisi, pernyataan tersebut dipahami sebagai upaya menenangkan masyarakat agar tidak terlalu panik terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Namun di sisi lain, pernyataan itu juga memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi global sering disederhanakan dalam komunikasi politik negara.
BACA JUGA:Kembangkan Bisnis Tanaman Hias, Yuk Koleksi 4 Bonsai Beringin Dolar, Untung Besar!
BACA JUGA:Dulu Dianggap Gulma, Kini Eceng Gondok Jadi Sumber Rupiah Warga Plaju
Secara literal, masyarakat desa memang tidak melakukan transaksi menggunakan dolar.
Petani di sawah, pedagang di pasar desa, maupun nelayan di pesisir tidak menjadikan dolar sebagai alat pembayaran sehari-hari. Namun persoalannya tidak sesederhana soal alat transaksi.
Dalam sistem ekonomi modern yang semakin terkoneksi secara global, masyarakat desa tetap hidup dalam pengaruh ekonomi internasional, termasuk fluktuasi dolar terhadap rupiah.
Hari ini, desa tidak lagi benar-benar terpisah dari pasar global. Harga pupuk yang digunakan petani sangat dipengaruhi bahan baku impor.
BACA JUGA:PTBA Luncurkan Reverse Vending Machine, Ubah Botol Plastik Jadi Rupiah
BACA JUGA:Wabup Lahat Resmikan Pasar Ramadan 1447 H, Omset Pedagang Sentuh Jutaan Rupiah Perhari, Intip Yuk
Harga bahan bakar minyak mengikuti dinamika energi dunia yang menggunakan dolar sebagai acuan utama.
Biaya distribusi barang kebutuhan pokok juga sangat sensitif terhadap perubahan kurs dan harga energi internasional.