OPINI: Desa Tidak Memakai Dolar, Tapi Menanggung Dampaknya
Orang desa memang tidak memakai dolar namun masyarakat desa tetap hidup dalam pengaruh ekonomi internasional--Ist
Bahkan alat pertanian, pestisida, dan berbagai kebutuhan produksi desa sebagian masih bergantung pada rantai pasok global.
Akibatnya, ketika dolar menguat dan rupiah melemah, dampaknya ikut merambat ke kehidupan masyarakat desa melalui kenaikan harga barang dan biaya produksi.
BACA JUGA:5 Rekomendasi Tablet Murah Terbaik 2026, Mulai dari 1 Juta Rupiah!
BACA JUGA:Beli Kia di IIMS 2026, Banjir Benefit Spesial dan Voucher Puluhan Juta Rupiah
Inilah yang sering tidak terlihat secara langsung. Masyarakat desa memang tidak memegang dolar di tangan mereka, tetapi mereka merasakan konsekuensi dari pergerakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
Harga sembako naik, ongkos transportasi meningkat, biaya bertani bertambah mahal, dan daya beli masyarakat perlahan menurun.
Dolar bekerja bukan sebagai mata uang yang hadir secara fisik di desa, melainkan sebagai kekuatan ekonomi global yang memengaruhi struktur harga dan biaya hidup.
Dalam perspektif komunikasi politik, pernyataan Presiden sebenarnya dapat dipahami sebagai upaya menciptakan ketenangan psikologis di tengah tekanan ekonomi.
BACA JUGA:Paling Worth It! 7 Rekomendasi Laptop Tipis dan Ringan di Harga 10-15 Juta Rupiah 2026
BACA JUGA:Waduh! Ada Modus Baru Judi Online, Bareskrim Sita Aset Miliar Rupiah dari 21 Website
Pemimpin politik modern tidak hanya dituntut membuat kebijakan, tetapi juga menjaga stabilitas persepsi publik.
Bahasa yang sederhana, populis, dan dekat dengan rakyat sering digunakan untuk membangun optimisme sosial.
Dalam konteks ini, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai pesan bahwa ekonomi rakyat kecil tidak sepenuhnya bergantung pada pasar keuangan global.
Namun komunikasi politik selalu memiliki batas yang tipis antara penyederhanaan dan penyempitan makna.