Pergeseran Paradigma: Ketika Ruang Digital Menggeser Ruang Publik
podcast bukan lagi sekadar alternatif atau pelengkap dalam strategi pemenangan politik--sumber foto: Gemini AI
Oleh: Siti Aisya (Mahasiswa MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang)
Lanskap kampanye dan komunikasi politik di Indonesia sedang mengalami transformasi kultural dan teknologis yang luar biasa.
Era di mana wajah para politisi mendominasi ruang publik melalui baliho fisik yang masif, kaku, dan sering kali mengotori estetika kota kini mulai memasuki masa senjakala.
Sebagai gantinya, ruang digital—khususnya melalui medium podcast (siniar) politik—telah mengambil alih panggung utama.
BACA JUGA:Menjaga Kebenaran di Era Digital: Perspektif Tafsir Ibnu Katsir terhadap Etika Jurnalistik
BACA JUGA:Membongkar Bias di Ruang Redaksi: Pentingnya Perspektif Gender dalam Riset Jurnalistik
Pergeseran instrumen ini bukan sekadar perubahan tren media, melainkan sebuah revolusi dalam cara memenangkan hati dan pikiran pemilih.
Format konvensional yang satu arah, mahal, dan berjarak, kini tersubstitusi oleh platform audio-visual yang menawarkan keintiman, kedalaman, dan interaksi yang organik.
Kekuatan utama podcast terletak pada formatnya yang kasual, mengalir, namun tetap mendalam (in-depth).
Karakteristik ini kontras dengan debat atau wawancara di televisi konvensional yang dibatasi oleh durasi ketat, interupsi iklan, dan atmosfer yang cenderung transaksional serta kaku.
BACA JUGA:Tafsir Al-Azhar dan Etika Jurnalistik: Menimbang Ulang Tanggung Jawab Informasi di Era Digital
BACA JUGA:Urgensi Tafsir Maudu’i dalam Menghadapi Era Post-Truth: Menakar Integritas Jurnalisme Berbasis Wahyu
Dalam ruang podcast yang santai, seorang tokoh politik mendapatkan panggung yang luas untuk Mengelaborasi visi dan misi tanpa perlu terburu-buru oleh komersial istirahat iklan.
Mengklarifikasi kontroversi atau isu miring secara komprehensif dari sudut pandang pribadi.