Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu 18 Jul 2026 - 09:32 WIB
Reporter : Trisno Rusli
Editor : Trisno Rusli

Dan ada satu hal lagi yang menarik: reaksi negara terhadap tang ping justru menunjukkan sesuatu yang jarang kita sadari, yaitu bahwa negara sendiri sebenarnya berperilaku seperti pemain pasar raksasa.

Negara juga punya kepentingan supaya "demand" tetap tinggi, karena pertumbuhan ekonomi nasional pada akhirnya bergantung pada rakyatnya yang terus bekerja, terus berbelanja, terus punya anak yang nantinya jadi tenaga kerja dan konsumen baru lagi.

Begitu sebagian besar warganya justru memilih keluar dari siklus itu secara sukarela, negara jadi punya insentif yang sama seperti perusahaan yang kehilangan pelanggan: mencoba segala cara untuk mengembalikan keinginan itu, mulai dari pidato pejabat, sampai -- dalam kasus paling ekstrem -- membingkainya sebagai ancaman keamanan.

BACA JUGA:Kejati Sumsel Selamatkan Uang Negara Rp904 Miliar, Kajati: Tidak Ada Perkara Mangkrak

BACA JUGA:Komitmen Jaga Ketahanan Energi, SKK Migas Gelar Diksar Bela Negara Angkatan IV Tahun 2026

Penutup: Rebahan sebagai Bentuk Perlawanan Paling Sunyi

Kalau saya lihat lebih jauh, ada semacam ironi menarik di sini.

Tang ping lahir dari kelelahan personal seorang pemuda yang cuma ingin naik sepeda ke Tibet dan hidup lebih tenang. Tapi karena dilakukan oleh cukup banyak orang secara bersamaan, tindakan personal yang kelihatannya sepele itu berubah jadi isu ekonomi nasional, bahkan isu keamanan negara.

Ini mengingatkan pada pembelajaran bahwa pasar dalam kasus ini bahkan negara sekalipun pada dasarnya sangat rapuh terhadap perubahan kolektif dalam keinginan manusia.

BACA JUGA:Titip Uang Pengganti Rp348 Juta, Kerugian Negara Kasus Pompa Muratara Masih Tinggal Ini Jumlahnya

BACA JUGA:Kejati Sumsel Pamerkan Tumpukan Uang Rp219 Miliar, Pelunasan Kerugian Negara Kasus Korupsi Kredit Perbankan

Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa yang menentukan arah ekonomi adalah kebijakan besar, suku bunga, atau investasi asing.

Tapi tang ping menunjukkan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan justru karena itu lebih mengganggu: kadang yang cukup untuk mengguncang sebuah sistem besar hanyalah cukup banyak orang biasa yang di saat bersamaan memutuskan untuk berhenti menginginkan apa pun.

*Prof. Yolanda Masnita Siagian adalah Dekan FEB Universitas Trisakti.

Kategori :