Kesaksian Korban Bencana Banjir Bandang Aceh, Warga Mulai Terserang Diare dan Penyakit Gatal
Pascabencana ekologi banjir bandang di Aceh, saat ini warga mulai terserang diare dan penyakit gatal--screenshot video
ACEH, KORANPALPRES.COM – Pascabencana ekologi banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh mulai menemukan masalah baru.
Hampir dua pekan pascabencana ekologi tersebut, warga mulai terserang diare dan penyakit gatal.
Hal ini disampaikan salah seorang korban bencana banjir bandang Fajrillah kepada koranpalpres.com melalui zoom meeting, Minggu 7 Desember 2025.
Di dalam kesaksiannya, Fajrillah menceritakan warga mulai terkontaminasi penyakit gatal dan diare.
BACA JUGA:UPDATE Banjir di Aceh! 70 Warga Terjebak di SDIT An-Nur Desa Pante Geulima, Stok Makanan Menipis
BACA JUGA:Beredar Surat Bupati Pidie Jaya Terkait Banjir Bandang: Tidak Sanggup Tangani Bencana Alam
Informasi itu langsung dia update ke posko utama dan langsung direspon Direktur Rumah Sakit Umum untuk segera ditindaklanjuti.
“Per tanggal 5 Desember 2025, relawan bekerjasama dengan 23 mahasiswa mendapati laporan warga terkontaminasi gatal-gatal dan diare. Info ini langsung kita sampaikan ke posko utama,” jelasnya.
Hal ini dikarenakan akses air bersih yang bersumber pada perusahaan daerah air minum (PDAM) sudah padam total.
Mengingat, kantor PDAM tersebut berada di Desa Beurawang yang merupakan salah satu desa paling paling parah di Kabupaten Pidie Jaya.
BACA JUGA:DVI Polda Sumbar Percepat Identifikasi Korban Banjir Bandang dan Longsor, Begini Penjelasannya
BACA JUGA:PLN Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh, Direksi Turun Langsung ke Lokasi
Saat ini suplai air minum berasal dari 3 unit armada bantuan Kementerian PUPR dan TNI serta bak penampungan toren yang dialokasikan kepada empat desa.
“Informasi dari Direktur PDAM sendiri, perbaikan akses air bersih baru bisa normal 3 hingga 5 tahun ke depan,” jelas Fajri yang juga Relawan Children and Youth Disabilities for Change (CYDC).
