Menulis Bukan Sekedar Aktualisasi Diri
Penulis, Aat Surya Safaat (paling kanan, belakang) mendampingi mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri saat menemui Presiden Korea Utara Kim Jong-il (ayahnya Kim Jong Un), langsung di Istana Kepresidenan di Pyongyang Korea Utara tahun 2005--Sumber foto: Dok. pribadi
Oleh : Aat Surya Safaat (Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI yang juga Wakil Sekretaris Komisi Infokom MUI)
KETIKA Bung Hatta (Mohammad Hatta) ditahan penjajah Belanda dalam waktu yang relatif lama di penjara Boven Digul Irian (sekarang Papua), ia menulis sebuah buku yang fenomenal dengan judul “Mendayung Antara Dua Karang”. Buku tersebut kemudian menjadi “basic” untuk pelaksanaan poltik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.
Google Advertisement Below
Sementara itu ketika Bung Karno (Sukarno) ditahan di penjara Sukamiskin Bandung yang juga dalam waktu relatif lama, ia pun menulis sebuah buku yang fenomenal dengan judul “Di Bawah Bendera Revolusi”. Buku tersebut menginspirasi generasi muda dengan nilai-nilai luhur perjuangan.
Saat ditanya apa motivasi “Founding Fathers” itu dalam membuat karya tulis yang kemudian menjadi “legacy”(warisan) bersejarah tersebut? Keduanya menjawab dengan lantang bahwa “bangsa Indonesia ke depan harus menjadi lebih baik!”.
BACA JUGA:PWI Ogan Ilir Turun ke Jalan, Galang Dana untuk Korban Bencana Sumatra
Kedua contoh karya besar bersejarah dari para pendiri bangsa itu saya kemukakan untuk memberikan motivasi, khususnya bagi para mahasiswa bahwa menulis bukan sekedar aktualisasi diri, tetapi sejatinya membawa pesan dan idealisme untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
Perlu juga kita pahami bahwa tidak ada istilah terlambat dalam menulis. Andrea Hirata yang bukunya menjadi “best seller” misalnya, mulai menulis pada usia 40 tahun. Bukunya yang banyak bercerita tentang nilai-nilai luhur dan perjuangan anak bangsa di Belitong kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul “Laskar Pelangi.”
Bagi Civitas Academica, banyaknya tulisan yang dimuat di jurnal-jurnal ilmiah adalah salah satu indikator bahwa perguruan tinggi yang bersangkutan memiliki kualitas yang dibanggakan, bahkan berkelas dunia kalau tulisan para dosen dan mahasiswanya banyak dimuat di jurnal ilmiah internasional.
Dalam upaya meningkatkan budaya menulis secara cerdas dan kreatif, para mahasiswa khususnya harus bisa melatih diri untuk secara terus-menerus membuat tulisan. Sementara pada saat ini masih banyak mahasiswa yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk hal-hal yang kurang bermakna.
BACA JUGA:PWI Sumsel Kecam Favehotel Prabumulih: Pemesanan Kamar Hari-H Mendadak Zonk
BACA JUGA:Akui Peran Wartawan Sangat Penting, Simak Ajakan Bupati Edison untuk PWI Kabupaten Muara Enim
Budaya menulis pada dasarnya adalah budaya yang sudah ada sejak zaman prasejarah, dan generasi muda di negeri ini harus bisa meningkatkan dan mengembangkan budaya tersebut agar tercipta generasi yang cerdas dan kreatif.
Bung Karno dan Bung Hatta bisa membuat tulisan yang bernilai sejarah, karena karya tulis mereka memberikan inspirasi, motivasi, dan harapan bagi banyak orang, khususnya generasi muda di negeri ini, justru ketika kedua proklamator itu dipenjara serta berada dalam banyak keterbatasan.