https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Menulis Bukan Sekedar Aktualisasi Diri

Penulis, Aat Surya Safaat (paling kanan, belakang) mendampingi mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri saat menemui Presiden Korea Utara Kim Jong-il (ayahnya Kim Jong Un), langsung di Istana Kepresidenan di Pyongyang Korea Utara tahun 2005--Sumber foto: Dok. pribadi

Melalui tulisanlah kita bisa memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan sebagainya demi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Pada era teknologi informasi yang maju pesat dewasa ini pun tulisan tetap merupakan media komunikasi yang diandalkan.

Terkait soal Kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mewajibkan mahasiswa S1, S2, dan S3 menulis makalah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan, ternyata kebijakan itu menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaannya, apakah universitas sudah siap? Jawabannya, ternyata banyak yang belum siap.

Dari banyak pemberitaan, tampak bahwa hanya perguruan tinggi yang sudah mapan saja yang relatif siap menerapkan persyaratan itu, sedangkan bagi perguruan tinggi yang kecil, kebijakan ini nampaknya masih menjadi masalah yang relatif pelik.

Sejatinya, masalahnya relatif sederhana serta tidak akan menjadi persoalan besar bagi perguruan tinggi manapun jika para mahasiswanya dibiasakan menulis sejak awal masa perkuliahan. Kita ambil contoh, mahasiswa harus terbiasa atau diwajibkan membuat paper dua kali dalam seminggu.

BACA JUGA:Kilang Pertamina Plaju Perkuat Kesiapan SDM dan Budaya HSSE Selama Siaga Nataru 2025

BACA JUGA:Review laptop ASUS Vivobook 16X K3605: Performa gaming RTX harga terjangkau dengan layar 16 inci

Karena sudah terbiasa menulis, seandainya seorang lulusan harus membuat ringkasan 10 halaman dari skripsinya yang kira-kira 100 halaman untuk dimuat di jurnal ilmiah, maka bagi yang bersangkutan kewajiban itu bukan merupakan hal yang sulit.

Namun hal yang paling penting dalam penerapan peraturan ini adalah perlunya pendekatan secara menyeluruh. Termasuk di dalamnya kesejahteraan dosen yang harus diperbaiki, sementara di sisi lain kehadiran dosen harus lebih optimal serta kurikulum harus memungkinkan mahasiswa untuk terampil menulis.

Selain itu kepustakaannya juga harus ditambah, buku- bukunya terus di update, dan akses digital untuk para mahasiswa diperluas agar tulisan mereka juga bisa dimuat secara online.

Bernilai Ibadah

BACA JUGA:Operasional Lancar dan Selamat Sepanjang 2025, PT SBS Ajak Anak Yatim Piatu di Tanjung Enim Ketuk Pintu Langit

BACA JUGA:Ternyata Ini Tujuan Pertemuan Pangdam II Sriwijaya dan Pengprov PJSI Sumsel

Dalam teks Al-Qur’an secara kontekstual juga dapat dipahami bahwa menulis merupakan “kewajiban” dengan adanya perintah kewajiban membaca. Tulisan, bagaimanapun, demikian berguna bagi kehidupan masyarakat secara luas.

Jika memang demikian halnya, maka menulis haruslah digalakkan. Tidak hanya bagi kalangan akademisi. Alangkah membanggakan kalau kalangan dunia usaha, penegak hukum, pejabat, bahkan ibu rumah tangga pandai menulis, sehingga dengan begitu buku-buku mengenai segala macam profesi akan bisa didapatkan dengan mudah.

Dalam kaitan ini pemikir Islam terkemuka Imam Ghazali menyatakan, “Manakala yang dicita-citakan itu baik serta mulia, maka pasti akan sulit ditempuh serta panjang jalannya”.

Beliau pun pernah mengingatkan bahwa “Tidak akan sampai ke puncak kejayaan kecuali dengan kerja keras, dan tidak akan sampai ke puncak keagungan kecuali dengan sopan santun”.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan