https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Menulis Bukan Sekedar Aktualisasi Diri

Penulis, Aat Surya Safaat (paling kanan, belakang) mendampingi mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri saat menemui Presiden Korea Utara Kim Jong-il (ayahnya Kim Jong Un), langsung di Istana Kepresidenan di Pyongyang Korea Utara tahun 2005--Sumber foto: Dok. pribadi

Tulisan (writing) itu sendiri dapat digolongkan pada dua kategori, yakni tulisan ilmiah dan tulisan ilmiah populer. Tulisan ilmiah banyak muncul di jurnal-jurnal ilmiah, sementara tulisan ilmiah populer disiarkan oleh media massa.

BACA JUGA:Pererat Silaturahmi, PT Priamanaya Grup Berbagi dengan Pengurus PWI Lahat

BACA JUGA:PWI Sumsel Adakan Lomba Azan Semarak Ramadan, Gubernur Herman Deru: Sederhana Manfaatnya Luar Biasa

Persoalannya, masih banyak mahasiswa dan dosen di Indonesia yang merasa kesulitan untuk membuat tulisan ilmiah, apalagi tulisan ilmiah populer. Bahkan dosen yang sudah meraih gelar doktor dan menjadi guru besar yang tulisannya banyak dimuat di jurnal ilmiah pun masih menghadapi kesulitan untuk mengubah tulisan ilmiahnya menjadi tulisan ilmiah populer.

Akibatnya, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian terkesan seperti “Menara Gading”. Karya besar mereka hanya bisa dibaca oleh kalangan Civitas Academica sendiri, sementara publik tidak mendapatkan manfaat dari karya tulis kalangan kampus itu.

Lain halnya kalau mereka juga bisa menulis di media massa, yakni dengan “mengubah” gaya karya tulis ilmiah mereka menjadi karya tulis ilmiah populer, sehingga masyarakat umum pun bisa mengambil manfaat dari buah pemikiran kalangan berpendidikan tinggi itu.

Dalam bahasa Inggris, “writing” itu sendiri pada hakekatnya merujuk kepada dua hal, yaitu sebagai kata benda (tulisan) dan sebagai kata kerja (menulis). Kegiatan menulis yang kemudian menghasilkan tulisan adalah proses pembentukan kata-kata pada sebuah media, sehingga lahirlah teks-teks.

BACA JUGA:Gelar Bukber, PWI Kota Pagaralam Perkuat Silaturahmi dan Komitmen Jurnalisme Berimbang

BACA JUGA:Oknum Wartawan Tipu PWI Ogan Ilir, Ajukan Surat Pengunduran Diri dari P3K Paruh Waktu, Rupanya Ikut Pelantikan

“Writing” adalah representasi bahasa pada media tekstual dengan menggunakan beberapa tanda atau simbol. Pada masa milenium ke-4 sebelum masehi, kompleksitas perdagangan dan perkembangan administrasi membutuhkan kapasitas memori yang lumayan banyak, dan tulisan pada akhirnya menjadi salah satu metode perekaman terpercaya yang permanen.

Berdasarkan paparan tersebut, secara singkat dapat disimpulkan bahwa budaya menulis perlu dikembangkan, bukan hanya sejak seseorang masuk ke perguruan tinggi, melainkan secara ekstrim bahkan sedini mungkin, yakni sejak seorang anak mengerti tentang baca-tulis.

Budaya menulis dan membaca sangat membantu proses belajar dan mengajar di sekolah pada khususnya, dan di masyarakat pada umumnya. Kita belajar untuk menjadi pandai tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, meskipun banyak metode lain yang juga bisa digunakan agar seseorang menjadi pandai dan cerdas.

Budaya menulis bahkan sangat membantu memperlancar hubungan dan interaksi sosial antar-individu dan kelompok masyarakat, sehingga akan dapat memperlancar hubungan kerjasama dalam menyelesaikan segala persoalan, termasuk bahkan menyelesaikan sengketa antar-bangsa.

BACA JUGA:Rekomendasi Parfum Lokal Kemasan 50 ml untuk Cowok yang Wangi Enak, Praktis dan Kualitas Terjamin!

BACA JUGA:Lenovo Legion 9i Gen 10, Laptop Gaming Seharga Mobil Bekas

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google