https://palpres.bacakoran.co/

banner lebaran 4lawang

Isra Mi‘raj, Ujian Hidup dan Cara Membaca Nikmat

Peristiwa Isra Mi'raj menjadi pelajaran besar tentang Allah mendidik manusia melalui ujian, nikmat dan tujuan hidup yang lebih luas--sumber foto: chat gpt

Penulis: Dekan FSH UIN Raden Fatah, Dr. Muhammad Harun, M.Ag

Peristiwa Isra Mi‘raj sering dipahami sebagai kisah mukjizat dan keajaiban spiritual Nabi Muhammad SAW.

Padahal, jika dibaca secara lebih mendalam, Isra Mi‘raj adalah pelajaran besar tentang bagaimana Allah mendidik manusia melalui ujian, nikmat, dan tujuan hidup yang lebih luas.

Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan menembus langit, melainkan penegasan tentang cara membaca hidup secara benar.

BACA JUGA:Kolaborasi Pemkot dan HBC Palembang, Drag Race Jadi Solusi Tekan Balap Liar

BACA JUGA:Wow, Kasir Salon Kecantikan Gelapkan Uang Rp 550 Juta Berujung Masuk Penjara

Isra Mi‘raj tidak terjadi dalam fase hidup Nabi yang nyaman. Ia datang setelah Am al-Ḥuzn, tahun penuh duka ketika Nabi kehilangan Khadijah ra. dan Abu Thalib, serta mengalami penolakan dan kekerasan di Thaif.

Secara manusiawi, ini adalah fase kelelahan dan keterpurukan. Namun justru setelah ujian itulah Allah mengangkat Nabi dalam perjalanan paling mulia dalam sejarah kenabian.

Fakta ini mengajarkan satu hal penting: dalam logika ilahi, kemuliaan sering kali didahului oleh ibtila bukan oleh kenyamanan.

Kesulitan hidup tidak selalu menandakan murka Tuhan, sebagaimana kelapangan hidup tidak otomatis menjadi tanda ridha-Nya.

BACA JUGA:BSI Maslahat Salurkan Bantuan Tahap 9, Ringankan Beban 98 Ribu Warga Palestina di Musim Dingin

BACA JUGA:Hemat Budget! Ini 3 Tablet Harga di Bawah 1 Juta yang Layak Beli

Di sinilah relevansi konsep istidraj dan ibtila dalam kehidupan beragama.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan