Isra Mi‘raj, Ujian Hidup dan Cara Membaca Nikmat
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi pelajaran besar tentang Allah mendidik manusia melalui ujian, nikmat dan tujuan hidup yang lebih luas--sumber foto: chat gpt
Penulis: Dekan FSH UIN Raden Fatah, Dr. Muhammad Harun, M.Ag
Peristiwa Isra Mi‘raj sering dipahami sebagai kisah mukjizat dan keajaiban spiritual Nabi Muhammad SAW.
Padahal, jika dibaca secara lebih mendalam, Isra Mi‘raj adalah pelajaran besar tentang bagaimana Allah mendidik manusia melalui ujian, nikmat, dan tujuan hidup yang lebih luas.
Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan menembus langit, melainkan penegasan tentang cara membaca hidup secara benar.
BACA JUGA:Kolaborasi Pemkot dan HBC Palembang, Drag Race Jadi Solusi Tekan Balap Liar
BACA JUGA:Wow, Kasir Salon Kecantikan Gelapkan Uang Rp 550 Juta Berujung Masuk Penjara
Isra Mi‘raj tidak terjadi dalam fase hidup Nabi yang nyaman. Ia datang setelah Am al-Ḥuzn, tahun penuh duka ketika Nabi kehilangan Khadijah ra. dan Abu Thalib, serta mengalami penolakan dan kekerasan di Thaif.
Secara manusiawi, ini adalah fase kelelahan dan keterpurukan. Namun justru setelah ujian itulah Allah mengangkat Nabi dalam perjalanan paling mulia dalam sejarah kenabian.
Fakta ini mengajarkan satu hal penting: dalam logika ilahi, kemuliaan sering kali didahului oleh ibtila bukan oleh kenyamanan.
Kesulitan hidup tidak selalu menandakan murka Tuhan, sebagaimana kelapangan hidup tidak otomatis menjadi tanda ridha-Nya.
BACA JUGA:BSI Maslahat Salurkan Bantuan Tahap 9, Ringankan Beban 98 Ribu Warga Palestina di Musim Dingin
BACA JUGA:Hemat Budget! Ini 3 Tablet Harga di Bawah 1 Juta yang Layak Beli
Di sinilah relevansi konsep istidraj dan ibtila dalam kehidupan beragama.
