https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Fotografer CFD: Ketika Pasar Diciptakan, Bukan Ditemukan

Menatap fenomena fotografer CFD dari sudut pandang strategi. Bukan cuma berburu momen, mereka aktif menciptakan pasar fotografi jalanan. Simak ulasannya!--sumber foto: chat gpt

Oleh Prof. Yolanda Masnita Siagian*

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts are never broken
And time's forever frozen, still

Potongan lagu Ed Sheeran bergejolak riuh di kepala. Minggupagi, jam tujuh lewat sedikit.

Kawasan Sudirman-Thamrin berubah jadi lautan manusia. Ada yang lari, ada yang gowes, ada yang sekadar jalan santai sambil bawa anak.

BACA JUGA:Seru Banget! Kampanye LRT Sumsel Gelar Fun Walk dan Zumba Bertema 'Begesit ke CFD Naek LRT'

BACA JUGA: Pesona Kain Tradisional di Atas Ampera: Perempuan Indonesia Maju Sumsel Bakal Sulap CFD Jadi Runway Budaya

Di antara keramaian itu, selalu ada sosok-sosok yang tidak ikut olahraga: berdiri di pinggir jalur, kamera tergantung di leher, mata mengintai siapa yang lewat dengan gerakan cukup "instagramable" -- rambut berkibar, ekspresi fokus, atau senyum lebar sambil berlari.

Mereka bukan wartawan. Bukan juga fotografer yang dibayar event organizer. Mereka adalah sosok yang di kalangan komunitas fotografi sering disebut dengan nada setengah bercanda, setengah sinis: "fotografer ngamen" atau "fotografer CFD".

Dan, diam-diam, mereka menjalankan salah satu model bisnis paling menarik -- sekaligus paling kontroversial -- yang lahir dari ruang publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Cara Kerja yang Sederhana tapi Efektif

BACA JUGA:Beranggota 155 Bintara Remaja, Marching Band Polda Sumsel Sukses Bius Pengunjung CFD

BACA JUGA:Amankan Launching CFD di Jembatan Ampera, Satlantas Polrestabes Palembang Siapkan Rute Alternatif dan Kantong

Pola bisnisnya sebenarnya tidak rumit. Fotografer nongkrong di titik-titik ramai: taman kota, area Car Free Day, jalur joging, sampai lokasi wisata yang selalu dipadati pengunjung.

Dari sana mereka memotret siapa saja yang lewat, tanpa bertanya dulu, tanpa basa-basi minta izin. Toh orang yang sedang lari atau selfie di depan air mancur biasanya tidak sadar sedang difoto oleh orang asing.

Hasil jepretan itu lantas diunggah, biasanya dalam bentuk resolusi rendah atau ada watermark, ke Google Drive atau situs khusus. Info soal lokasi, tanggal, dan jam pemotretan disebar lewat akun media sosial mereka, lengkap dengan tautan ke folder berisi ratusan bahkan ribuan foto.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google