Kemudian, Upacara Saraswati yang diperingati setiap 6 bulan sekali penting dilakukan khususnya untuk para siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan. Sebab, umat Hindu mempercayai bahwa Saraswati merupakan Dewi Ilmu Pengetahuan yang menurunkan ilmu pengetahuan bagi manusia.
Pada hari Saraswati, para siswa sekolah di pagi hari akan disibukkan dengan upacara sembahyang di sekolah masing-masing. Kemudian, mereka akan berlanjut untuk sembahyang ke pura lainnya . Sedangkan pustaka, lontar, buku, hingga alat tulis dibersihkan dan dikumpulkan di suatu tempat untuk diupacarai pula.
9. Omed-omedan
Omed-omedan menjadi tradisi yang dilakukan oleh anak-anak muda di Bali yang dilaksanakan pada saat Ngembak Geni atau hari pertama setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Omed-omedan sendiri dalam bahasa Indonesia artinya adalah tarik menarik.
Para anak muda yang berusia antara 17 sampai 30 tahun saling berpelukan dan tarik menarik bergantian antara dua kelompok. Tradisi ini dilakukan untuk perwujudan masima krama atau dharma shanti yang artinya menjalin silaturahmi antarwarga.
BACA JUGA:Upacara Adat Buang Jung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Upacara Lainnya
BACA JUGA:Upacara Adat di Provinsi Sumatra Selatan: Bentuk Kearifan Lokal Mengelola SDA
10. Mekotek
Berasal dari kata tek-tek yang merupakan bunyi kayu yang beradu, Mekotek merupakan tradisi umat Hindu Bali yang dilakukan secara turun-menurun di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol kemenangan dan juga sebagai upaya menolak bala dan biasa dilakukan tepat di saat Hari Raya Kuningan.
Selesai sembahyang di pura, mereka akan berkumpul untuk melakukan pawai. Di setiap pertigaan yang terlewati, masing-masing kelompok akan membuat bentuk segitiga dengan menggabungkan kayu yang membentuk kerucut. Mereka kemudian akan berputar dan berjingkrak dengan iringan gamelan.
11. Gebug Ende Seraya
Di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali, ada sebuah tradisi unik bernama Gebug Ende Seraya. Tradisi ini merupakan perang rotan yang sudah dilakukan turun-temurun dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi Gebug Ende Seraya dilakukan pada sekitar bulan Oktober-November menjelang musim tanam dengan tujuan untuk memohon hujan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Perang rotan sendiri dilakukan di tempat umum dan mengundang lawan dari desa sekitarnya. Keberadaan Tradisi Gebug Ende sudah ada sejak zaman Kerajaan Karangasem. Sebelum dilakukan, hal pertama yang dilakukan adalah persembahyangan dengan berbagai sesaji. Kemudian, dua orang laki-laki akan mengadu ketangkasan dengan cara saling serang. Selama permainan, akan ada suara rotan yang disambut oleh warga desa. Dalam permainan Gebug Ende sendiri ada aturan dan juga larangan yang harus dipatuhi oleh para peserta.
BACA JUGA:Inilah Ragam Upacara Adat di Provinsi Jambi yang Kaya dan Menarik
BACA JUGA:Upacara Adat Basuh Lantai dan Tradisi Lain di Provinsi Kepulauan Riau
Demikian tradisi Bali yang hingga kini masih terus dilestarikan. Masing-masing tradisi yang diselenggarakan bukan hanya sekadar penyelenggaraan saja, tapi memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Jika kamu ingin mengetahui lebih jauh tentang tradisi Bali, maka rencanakan perjalananmu mulai sekarang.