Keberadaan mereka sesungguhnya sama dengan mereka atau kita yang diberikan kelapangan rezeki dan hidup dengan kecukupan.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Ramadan dan Tulus Pengabdian dalam Pencerahan Spiritual
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Kesatuan Makna Puasa di Tengah Variasi Penentuan Awal Ramadan
Martabat kemanusiaan seseorang hanya dibedakan karena faktor ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13). Di sinilah saatnya kelompok yang beruntung harus membantu saudara-saudaranya yang kurang beruntung.
Pada Bulan Ramadan, kewajiban berpuasa ditunaikan sebagai bentuk ketundukan totalitas dan dilipatgandakan seluruh amal ibadah yang dilakukan pada bulan yang penuh kemuliaan itu.
Berpuasa adalah upaya untuk membebaskan manusia dari sifat-sifat kezaliman karena di dalam berpuasa seseorang akan merasakan bagaimana sulitnya menahan rasa lapar dan dahaga yang dialami oleh orang-orang yang tidak berpunya.
Pada bulan Ramadan, ketundukan seorang yang beriman juga ditunjukkan dengan mengerjakan Qiyamul Lail (Shalat Tarawih/Tahajjud) yang dalam Alquran dijanjikan kedudukan yang mulia (QS. Al-Isra: 78). Di dalam berpuasa juga doa-doa akan dikabulkan dengan “syarat dan ketentuan” yang berlaku (QS. Al Baqarah: 186).
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Ciri-Ciri Wanita yang Dirindukan Surga
BACA JUGA:Ramadan dan Spirit Taubat Dalam Hukum Pidana Islam: Dari Pembalasan Menuju Perbaikan (Artikel Kurma)
Berpuasa Ramadan hakikatnya adalah “proses tahunan” yang di dalamnya seseorang ditempa untuk menjadi insan yang bertakwa. Proses ini dapat dibaca setidaknya melalui tiga tahapan yang ketiganya terdapat dalam berpuasa.
Pertama, Takhalli, yaitu tahap pembersihan diri dari sifat-sifat tercela seperti riya, dengki, dan sombong, yang melibatkan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan jiwa.
Proses ini terlihat ketika seseorang yang berpuasa mulai memasang niat puasa, bersahur, dan menahan segala sesuatu yang membatalkan berpuasa sejak terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari.
Pada proses ini jelas seseorang yang berpuasa bersungguh-sungguh ikhlas melaksanakannnya untuk menghindarkan sesuatu yang membatalkan puasa, bahkan sesuatu yang di luar puasa dihalalkan.
BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Menjaga Kualitas Puasa di Era Digital
BACA JUGA:Ibadah Tanpa Jeda: Beramal di Era Digitalisasi (Artikel Kurma)
Proses ini adalah “pengosongan jiwa” dari berbagai sifat-sifat yang kontra nilai-nilai kemanusiaan (Humanities Values).