Antara Representasi dan Realitas: Media dalam Konstruksi Gender

Jumat 22 May 2026 - 10:20 WIB
Reporter : Trisno Rusli
Editor : Trisno Rusli

Iklan produk rumah tangga juga kerap menampilkan ibu sebagai satu-satunya penanggung jawab urusan dapur dan mencuci. 

BACA JUGA:Dorong Kesetaraan Gender, Polri Luncurkan Hal Baru Ini

BACA JUGA:Pemkab Muba dan BNNP Sumsel Resmi Bekerja Sama, Tabuh Genderang Perang Lawan Narkoba

Penggambaran berulang ini membentuk anggapan bahwa pembagian peran tersebut adalah kodrat dan tidak bisa diubah.

Menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial yang terus-menerus. 

Media menjadi bagian dari proses tersebut karena mampu menyebarkan nilai sosial kepada masyarakat dalam skala luas. 

Ketika masyarakat menonton tayangan yang sama setiap hari, stereotip gender terinternalisasi sebagai sesuatu yang wajar. 

BACA JUGA:Gara-Gara 30 Persen Lebih Pengambil Keputusan Dijabat Perempuan, Pemprov Sumsel Jadi Contoh Kesetaraan Gender

BACA JUGA:Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Pemprov Sumsel Wujudkan Raperda Responsif Gender dan Anak

Akibatnya, laki-laki yang memilih menjadi ayah rumah tangga atau perempuan yang berkarier di bidang teknik sering dianggap aneh.

Selain membentuk stereotip, media juga menciptakan standar kecantikan dan maskulinitas.

Iklan kosmetik di Indonesia kerap menampilkan perempuan ideal berkulit putih, langsing, dan berambut lurus.

Sementara iklan produk pria menuntut tubuh atletis, wajah tegas, dan kesuksesan karier. 

BACA JUGA:Fortuner Legender Neo 48V 2025, Varian Baru Toyota dengan Sentuhan Teknologi dan Desain Modern

BACA JUGA:Mahasiswa FISIP Universitas Andalas Edukasi Kesadaran Kesetaraan Gender dalam Politik di SMAN 3 Batusangkar

Standar ini diperkuat oleh konten influencer di Instagram dan TikTok yang menampilkan gaya hidup mewah dan penampilan sempurna.

Kategori :