Antara Representasi dan Realitas: Media dalam Konstruksi Gender

Jumat 22 May 2026 - 10:20 WIB
Reporter : Trisno Rusli
Editor : Trisno Rusli

Tekanan untuk memenuhi standar ini membuat banyak remaja mengalami body shaming, rendah diri, hingga gangguan makan.

Naomi Wolf menyebut fenomena ini sebagai “mitos kecantikan” yang menekan perempuan untuk selalu tampil sempurna.

Di Indonesia, tekanan tersebut terlihat dari tingginya konsumsi produk pemutih kulit dan operasi plastik di kalangan perempuan muda.

BACA JUGA:Menteri PPPA Buka PLN Gender Summit 2025, Apresiasi Komitmen Kesetaraan dan Inklusivitas di Lingkungan Kerja

BACA JUGA:PLN Terapkan Kesetaraan Gender dan Inklusifitas di Lingkungan Kerja Berstandar Internasional

Media akhirnya tidak hanya memengaruhi cara masyarakat memandang orang lain, tetapi juga cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Di era digital, pengaruh media semakin kuat kemudian Platform seperti TikTok dan YouTube memungkinkan konten menyebar cepat ke seluruh Indonesia.

Konten hiburan di media sosial sering kali mereproduksi stereotip gender, misalnya melalui video yang merendahkan perempuan atau menormalisasi pelecehan verbal sebagai bahan candaan.

Hal tersebut menuai kritik karena dianggap memperkuat budaya patriarki dan ketidaksetaraan gender. 

BACA JUGA:Sinergi Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah X Balitbangda Muara Enim, Teliti Kesenjangan Gender di Dunia Kerja

BACA JUGA:5 Tokoh Wanita di Kongres Sumpah Pemuda, Nomor 1 Pejuang Kesetaraan Gender

Namun, di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang edukasi dan advokasi. 

Banyak komunitas, organisasi, dan kreator digital memanfaatkan platform tersebut untuk menyuarakan isu kesetaraan gender, kekerasan seksual, serta pentingnya menghormati hak dan keamanan perempuan di ruang publik maupun digital.

Dengan demikian, media memiliki keterkaitan erat dengan konstruksi sosial gender. Media tidak hanya mencerminkan realitas sosial Indonesia, tetapi juga ikut membentuknya. 

Oleh karena itu, media perlu bertanggung jawab dengan menyajikan representasi gender yang seimbang dan tidak diskriminatif. 

BACA JUGA:Bebas dari Stigma Gender: 5 Rekomendasi Parfum Unisex yang Membuatmu Tampil Keren dan Percaya Diri

Kategori :