https://palpres.bacakoran.co/

Oase Itu Bernama Esai

Menulis esai bukan cuma kebutuhan akademik namun sebuah oase untuk memahami dunia. Penulis: Maulani (Dosen UIN Raden Fatah Palembang)--Ist

Esai adalah cermin jiwa, sebuah kanvas tempat mahasiswa menuangkan keresahan, pertanyaan, dan keajaiban kecil dari dunia yang mereka amati.

Bukan sekadar tugas kuliah yang diketik untuk memenuhi syarat akademis, esai adalah percakapan intim antara akal dan hati, tempat ide-ide liar dirangkai jadi cerita yang bernyawa.

Bagi mahasiswa, menulis esai bukan cuma kebutuhan akademik, tapi kebutuhan eksistensial: cara untuk memahami dunia yang riuh, untuk menemukan makna di tengah tumpukan tugas, dan untuk membuktikan bahwa mereka bukan cuma pengejar nilai, tapi manusia yang merenung, yang hidup.

Di tengah lautan tugas menulis artikel ilmiah dan jurnal ber-ISSN yang menuntut kemampuan menulis adiluhung dan rigid dalam aturan, esai adalah napas kebebasan, ruang untuk jujur, untuk orisinal, untuk menjadi diri sendiri.

BACA JUGA:Green Campus Competition 2025, Langkah Nyata UIN Raden Fatah menuju Global Islamic Sustainability University

BACA JUGA:Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Dorong Integrasi SDGs dalam Pembangunan Kota Palembang

Di Tengah hingar bingar kehidupan kampus yang sesak akan tuntutan administratif, hidup mahasiswa sering terasa seperti menapaki labirin tanpa peta.

Tugas menumpuk, deadline mengintai, dan tuntutan akademik terkadang membuat otak seperti kompor gas 3 kg yang kehabisan bahan bakar.

Tugas yang berupa artikel ilmiah atau makalah dengan sitasi rapi dan struktur kaku sering cuma jadi formalitas: kering, minim jiwa, dan “lebih seringnya” hanya tempelan ide orang lain yang dipoles agar terlihat cerdas.

Esai Beda

BACA JUGA:2 UIN di Pulau Sumatera Duduki Peringkat Teratas PTKIN pada THE Impact Rankings 2025, Kampus Kamu Termasuk?

BACA JUGA:3 Pesan Rektor UIN Raden Fatah Palembang di Wisuda ke-93, Alumni Wajib Simak!

Esai adalah tempat mahasiswa menangkap dunia, entah dari bising klakson siang hari di depan gedung Rektorat atau keresahan soal harga buku yang dijual dosen hingga bikin dompet menjerit dan mengolahnya jadi sesuatu yang punya makna, yang hidup, yang punya detak.

Seperti kata Emha Ainun Nadjib, menulis adalah metabolisme dari akal dan jiwa.

Kalau membaca, mendengar, dan menonton adalah cara akal menyerap pengetahuan, maka menulis esai adalah cara jiwa kita mencerna, menghela napas, dan merangkai kekacauan jadi cerita yang jernih. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan