Oase Itu Bernama Esai
Menulis esai bukan cuma kebutuhan akademik namun sebuah oase untuk memahami dunia. Penulis: Maulani (Dosen UIN Raden Fatah Palembang)--Ist
Bayangkan otak manusia tak ubahnya pasar malam, penuh lampu-lampu ide berkedip-kedip, pedagang teriak menawarkan teori, dan pengunjung berebut perhatian dengan notif ponsel.
BACA JUGA:SELAMAT! 901 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Diwisuda ke-93
Google Advertisement Below
Tanpa disalurkan, semua itu akan menumpuk, tak ubahnya sampah plastik di trotoar.
Menulis esai adalah cara kamu menyortir, memilih, dan memasak bahan-bahan itu jadi hidangan yang punya rasa,mungkin tidak selalu lezat, tapi pasti punya cerita.
Dalam gagasan pendidikan kaum tertindas, Paulo Freire mengaggap pendidikan sejati bukan cuma soal menjejalkan fakta atau mematuhi disiplin akademik.
Pendidikan adalah soal membangunkan kesadaran, melatih mata untuk melihat dunia dengan kritis, untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana” tanpa takut.
BACA JUGA:Kemas Ari Panji Raih Gelar Doktor ke-272 UIN Raden Fatah Palembang, Kaji Mata Uang Pitis
BACA JUGA:SIMAK! Begini Pesan Dekan FDK UIN Raden Fatah Palembang Dalam Prosesi Yudisium ke-51
Menulis esai adalah salah satu kebiasaan kritis itu. Saat menulis, kita tidak hanya menuang kata, tapi melatih diri untuk mempertanyakan, berpikir, meragukan, dan bercerita.
Jika mahasiswa tumbuh tanpa keberanian untuk mempertanyakan dunia, maka ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, sekalipun nilai IPK-nya sempurna alias comluade.
Menulis esai adalah soal keberanian untuk jujur. Tidak perlu bahasa yang muluk atau teori yang bikin dahi berkerut.
Yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk menangkap dunia obrolan di kantin, poster sobek di tembok kampus, atau keresahan soal ketidakadilan yang membuat sesak dada.
BACA JUGA:SERU! Turnamen Futsal Antar Fakultas UIN Raden Fatah Usung Take Your Victory, Make a History
BACA JUGA:Prodi MPI UIN Raden Fatah Palembang Gandeng PMI Sumsel Gelar Aksi Donor Darah, Ini Tujuannya