https://palpres.bacakoran.co/

Oase Itu Bernama Esai

Menulis esai bukan cuma kebutuhan akademik namun sebuah oase untuk memahami dunia. Penulis: Maulani (Dosen UIN Raden Fatah Palembang)--Ist

Di tengah tugas-tugas yang sering cuma ngurusin format dan jumlah kata, esai adalah ruang untuk orisinalitas, untuk nyanyi dengan nada sendiri, untuk membuktikan bahwa kamu bukan cuma penutup buku, tapi manusia yang hidup.

Esai bukan cuma soal menyelesaikan tugas, tapi soal melatih kesadaran kritis.

Di dunia yang penuh kebisingan dari notif grup WhatsApp sampai berita di media sosial, esai adalah oase tempat kita berhenti, merenung, dan mencerna.

Google Advertisement Below

Ia adalah latihan untuk tidak sekedar menjadi penonton, tapi pemain yang aktif bertanya dan menjawab.

BACA JUGA:Rutin Sembelih Hewan Kurban, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Tegaskan Bukan Sekadar Ibadah Seremonial

BACA JUGA:Ditinjau Kemenkes RI, Pendirian Fakultas Kedokteran UIN Raden Fatah Palembang di Depan Mata!

Ketika menulis esai, kita melatih diri untuk melihat dunia tidak sebatas sebagai tumpukan fakta, tapi sebagai jaringan makna yang bisa diurai dan rangkai ulang.

Bagi mahasiswa, esai adalah senjata halus melawan dunia akademik yang kadang terjebak dalam aturan kaku dan angka.

Di tengah tumpukan tugas yang sering terasa seperti laporan keuangan, esai adalah napas kebebasan. 

Ia adalah tempat mahasiswa membuktikan bahwa ia bukan cuma mesin penulis artikel ilmiah, tapi manusia yang punya keresahan, pertanyaan, dan cerita.

BACA JUGA:Resmi Dilantik, ini Pesan Penting Rektor Profesor Adil kepada 13 Pejabat Baru UIN Raden Fatah Palembang

BACA JUGA:Pameran Photography Mahasiswa KPI UIN Raden Fatah: Bukti Kreativitas Tanpa Kata

Esai adalah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mengejar nilai, tapi juga makna, bahwa mahasiswa bukan cuma belajar, tapi juga hidup.

Tidak seperti karya ilmiah yang memiliki batasan tertentu, esai lebih lentur dan bebas dalam aturan menulisnya.

Seperti batasan kata pada esai, ada esai pendek tak lebih dari 1000 kata, bahkan ada yang hanya 100 kata seperti teks Proklamasi yang menjadi pendobrak kita untuk menghilangkan penjajahan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan