Oase Itu Bernama Esai
Menulis esai bukan cuma kebutuhan akademik namun sebuah oase untuk memahami dunia. Penulis: Maulani (Dosen UIN Raden Fatah Palembang)--Ist
Di sisi lain, esai Tan Malaka yang berjudul Naar de Republik Indonesia adalah esai yang panjangnya tak terkira.
BACA JUGA:Sosialisasi Beasiswa Indonesia Bangkit 2025, UIN Raden Fatah Palembang Kerjasama Puspenma Kemenag
Google Advertisement Below
Dalam esai, Panjang pendek sebuah karya bukanlah masalah, tapi bagaimana esai tersebut dapat memberikan dampak sang pembaca.
Apakah senang? Sedih? Marah? Gembira? Atau bahkan meletupkan kesadaran yang massif?
Pilihan gaya menulis dalam esai juga beragam, ada yang menulis esai seperti surat, ada yang menjadikannya alat kritik, ada yang menuliskannya untuk dimimbarkan dan membakar semangat.
Ada juga yang menuliskannya seperti puisi naratif yang menghanyutkan, atau menuliskannya dengan gaya satire.
BACA JUGA:Trik Mudah Rektor UIN Raden Fatah Palembang Ganti Papan Bunga Menjadi Pohon, Auto Bikin Menag Bangga
Intinya, esai adalah sebuah medan untuk akrobat berbahasa, wadah bagi mahasiswa belajar menulis, menungkan ide, keresahan, dan lain sebagainya.
Untuk itu menulis esai adalah seoal menemukan diri sendiri. Saat menulis, kita tidak sekedar berhadapan dengan dunia, tapi juga dengan cermin batin.
Kita akan bertanya: apa yang membuatku gelisah? Apa yang membuatku percaya? Apa yang membuatku tetap bangun meski dunia terasa berat?
Esai adalah tempat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, meski jawabannya tidak selalu jelas.