https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Soroti Program MBG, Mahasiswi Universitas Andalas ini Suarakan Perbaikan Menyeluruh

Makan Bergizi: Harapan Tinggi, Realita Ngeri--

BACA JUGA:Terungkap! 7 Weton Sakral yang Berjodoh dengan Katuranggan Perkutut Udan Mas, Pembawa Rezeki dan Tuah Karier

Bagaimana bisa pemerintah menutup mata ketika ribuan anak menjadi korban keracunan massal?

Bukankah nyawa mereka jauh lebih berharga daripada pencitraan program yang terburu-buru diluncurkan?

Masalah utama di sini jelas ada pada pengawasan dan kualitas distribusi.

Data BGN menunjukkan kasus-kasus besar tersebar di banyak wilayah: dari ratusan anak keracunan di Indramayu, 480 korban di Pandeglang, hingga 320 korban di Bandung.

BACA JUGA:Mahasiswi Universitas Andalas Edukasi Olahan Hasil Ternak dan Bahaya Mengkonsumsi Secara Berlebihan, Simak Ya!

BACA JUGA:Mahasiswi Universitas Andalas Edukasi Dini Manfaat Produk Unggas bagi Siswa Sekolah Dasar di Solok Selatan

Ini bukan sekadar “kesalahan teknis kecil”, melainkan masalah sistemik.

Kualitas bahan makanan, proses penyimpanan, hingga distribusi yang ceroboh berpotensi menciptakan racun alih-alih gizi.

Pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab?

Apakah pemerintah pusat yang terlalu gegabah meluncurkan program tanpa kesiapan infrastruktur?

BACA JUGA:Langkah Kecil Dampak Besar, Mahasiswa KKN Universitas Andalas Bareng Tenaga Kesehatan Membangun Generasi Sehat

BACA JUGA:Mahasiswa KKN Universitas Andalas Edukasi Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pakan, Petani Nagari Cupak Sumringah

Apakah pihak pelaksana di daerah yang lalai dalam pengawasan?

Atau para penyedia makanan yang hanya mengejar keuntungan tanpa peduli kualitas?

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google