Antara Representasi dan Realitas: Media dalam Konstruksi Gender
Pendidikan gender sejak dini di sekolah dan keluarga penting agar generasi muda tidak terjebak pada konstruksi sosial yang kaku--Sumber: Gemini AI
Sementara perempuan ditampilkan sebagai ibu rumah tangga yang sabar, mengurus anak, dan mengutamakan kebutuhan suami.
Iklan produk rumah tangga juga kerap menampilkan ibu sebagai satu-satunya penanggung jawab urusan dapur dan mencuci.
BACA JUGA:Dorong Kesetaraan Gender, Polri Luncurkan Hal Baru Ini
BACA JUGA:Pemkab Muba dan BNNP Sumsel Resmi Bekerja Sama, Tabuh Genderang Perang Lawan Narkoba
Penggambaran berulang ini membentuk anggapan bahwa pembagian peran tersebut adalah kodrat dan tidak bisa diubah.
Menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial yang terus-menerus.
Media menjadi bagian dari proses tersebut karena mampu menyebarkan nilai sosial kepada masyarakat dalam skala luas.
Ketika masyarakat menonton tayangan yang sama setiap hari, stereotip gender terinternalisasi sebagai sesuatu yang wajar.
BACA JUGA:Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Pemprov Sumsel Wujudkan Raperda Responsif Gender dan Anak
Akibatnya, laki-laki yang memilih menjadi ayah rumah tangga atau perempuan yang berkarier di bidang teknik sering dianggap aneh.
Selain membentuk stereotip, media juga menciptakan standar kecantikan dan maskulinitas.
Iklan kosmetik di Indonesia kerap menampilkan perempuan ideal berkulit putih, langsing, dan berambut lurus.
Sementara iklan produk pria menuntut tubuh atletis, wajah tegas, dan kesuksesan karier.
BACA JUGA:Fortuner Legender Neo 48V 2025, Varian Baru Toyota dengan Sentuhan Teknologi dan Desain Modern