Antara Representasi dan Realitas: Media dalam Konstruksi Gender
Pendidikan gender sejak dini di sekolah dan keluarga penting agar generasi muda tidak terjebak pada konstruksi sosial yang kaku--Sumber: Gemini AI
Standar ini diperkuat oleh konten influencer di Instagram dan TikTok yang menampilkan gaya hidup mewah dan penampilan sempurna.
Tekanan untuk memenuhi standar ini membuat banyak remaja mengalami body shaming, rendah diri, hingga gangguan makan.
Naomi Wolf menyebut fenomena ini sebagai “mitos kecantikan” yang menekan perempuan untuk selalu tampil sempurna.
Di Indonesia, tekanan tersebut terlihat dari tingginya konsumsi produk pemutih kulit dan operasi plastik di kalangan perempuan muda.
BACA JUGA:PLN Terapkan Kesetaraan Gender dan Inklusifitas di Lingkungan Kerja Berstandar Internasional
Media akhirnya tidak hanya memengaruhi cara masyarakat memandang orang lain, tetapi juga cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Di era digital, pengaruh media semakin kuat kemudian Platform seperti TikTok dan YouTube memungkinkan konten menyebar cepat ke seluruh Indonesia.
Konten hiburan di media sosial sering kali mereproduksi stereotip gender, misalnya melalui video yang merendahkan perempuan atau menormalisasi pelecehan verbal sebagai bahan candaan.
Hal tersebut menuai kritik karena dianggap memperkuat budaya patriarki dan ketidaksetaraan gender.
BACA JUGA:5 Tokoh Wanita di Kongres Sumpah Pemuda, Nomor 1 Pejuang Kesetaraan Gender
Namun, di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang edukasi dan advokasi.
Banyak komunitas, organisasi, dan kreator digital memanfaatkan platform tersebut untuk menyuarakan isu kesetaraan gender, kekerasan seksual, serta pentingnya menghormati hak dan keamanan perempuan di ruang publik maupun digital.