https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Rebahan yang Ditakuti Negara

Artikel Rebahan yang Ditakuti ditulis oleh Dekan FEB Universitas Trisakti Prof. Yolanda Masnita Siagian-Sumber Foto: Dok. pribadi-

BACA JUGA:Weekend Asyik Rebahan Hasilkan Saldo DANA Gratis Rp150 Ribu, Lewat Aplikasi penghasil uang ini

Dan kalau ditarik ke bahasa pemasaran, ini sama saja dengan pasar yang total addressable market-nya (istilah untuk "total ukuran pasar yang bisa disasar") justru menyusut dari dalam.

Bukan karena orangnya berkurang, tapi karena keinginan orangnya yang berkurang. Ini beda banget dengan resesi ekonomi biasa, di mana orang sebenarnya masih ingin belanja tapi tidak punya uang.

Tang ping lebih mengerikan buat pemasar karena ini soal keinginan yang memang sengaja dipadamkan.

Orang yang tadinya jadi target sempurna buat iklan properti, asuransi pendidikan anak, mobil keluarga, sekarang justru bangga bilang "Saya ’nggak’ butuh itu semua."

BACA JUGA:Mainkan Game Sambil Rebahan, Saldo DANA Gratis Rp500.000 Auto Cair Tanpa Banyak Mikir

BACA JUGA:Kaum Rebahan Mari Kumpul! Inilah Cara Klaim Saldo DANA Gratis Rp150 Ribu dari Aplikasi Penghasil Uang

Bayangkan strategi marketing yang biasanya dibangun di atas rasa takut ketinggalan (FOMO) atau dorongan status sosial, tiba-tiba berhadapan dengan generasi yang bilang, "Saya sudah ’nggak’ peduli lagi dengan status."

Ketika Negara Sendiri Jadi Pemain Pasar

Nah, ini bagian yang menurut saya paling menarik dari seluruh cerita tang ping.

Biasanya kalau ada tren konsumen bergeser, pihak yang bereaksi paling cepat adalah perusahaan.

BACA JUGA:Mantan Kepala KCP Kantor Pos Didakwa Korupsi BTN e-Batara Pos, Negara Rugi Rp4,67 Miliar

BACA JUGA:Karang Negara Desa Tertua Jembatan Tak Kunjung Dibangun, Sekolah Hancur Infrastruktur Minim

Mereka meriset ulang, mengubah strategi kampanye, dan mencari segmen baru. Tapi dalam kasus tang ping, pihak yang paling gelisah justru negara.

Kenapa? Karena ekonomi China dalam skala besar sangat bergantung pada konsumsi domestik yang terus tumbuh, plus tenaga kerja muda yang terus produktif, menikah, punya anak, dan pada akhirnya jadi konsumen jangka panjang untuk properti dan berbagai kebutuhan keluarga.

Ketika sebagian besar generasi muda justru memilih menahan diri secara kolektif, ini bukan cuma soal selera pribadi, tapi ancaman langsung terhadap mesin pertumbuhan negara.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google