Rebahan yang Ditakuti Negara
Artikel Rebahan yang Ditakuti ditulis oleh Dekan FEB Universitas Trisakti Prof. Yolanda Masnita Siagian-Sumber Foto: Dok. pribadi-
Presiden Xi Jinping sendiri pernah menyinggung soal ini secara terbuka, mendorong pentingnya menjaga mobilitas sosial dan menghindari apa yang disebutnya sebagai stagnasi kelas sosial serta sikap "involusi dan rebahan".
BACA JUGA:Berantas Tambang Ilegal Muara Enim, Polda Sumsel Cegah Kebocoran Royalti Negara
BACA JUGA:Dugaan Korupsi BLK Prabumulih, Negara Diduga Rugi Rp7,1 Miliar, PPK Dituntut 3 Tahun Penjara
Dan yang lebih ekstrem lagi terjadi belum lama ini. Pada akhir April 2026 Kementerian Keamanan Negara China merilis pernyataan resmi yang menyebut narasi tang ping sebagai bentuk upaya "infiltrasi ideologis", dituduh sengaja disebarkan oleh kekuatan asing untuk melemahkan semangat generasi muda China dari dalam.
Coba resapi sejenak betapa luar biasanya ini. Sebuah sikap personal, memilih kerja seadanya, menunda nikah, tidak mau membeli rumah yang tadinya cuma dianggap tren media sosial yang agak nyeleneh, sekarang dibingkai serius sebagai ancaman keamanan negara.
Ini menunjukkan betapa pentingnya "demand" bagi sebuah negara sampai-sampai penurunan keinginan berbelanja rakyatnya sendiri dianggap setara dengan ancaman dari luar.
Rebahan yang Terus Bermutasi
BACA JUGA:55 Tahun Menunggu, Warga Desa Karang Negara Masih Bermimpi Punya Jembatan
BACA JUGA:Rugikan Negara, Kasus Penyimpanan Balok Timah Ilegal Berhasil Dibongkar
Menariknya, tang ping juga tidak berhenti sebagai satu istilah tunggal. Dari sana lahir varian-varian baru yang makin ekstrem sesuai dengan tingkat kelelahan generasinya.
Ada istilah bai lan (摆烂) yang kira-kira bisa diterjemahkan sebagai "biarkan saja membusuk", semacam level lanjutan dari tang ping, lebih pasrah lagi, semacam "toh sudah rusak, ya sudah biarkan saja daripada capek-capek diperbaiki."
Ada juga istilah run (润), yang bunyinya memang sengaja dipilih mirip kata bahasa Inggris "run", sebuah kode halus buat keinginan kabur ke luar negeri sepenuhnya, bukan cuma menahan diri dari kompetisi, tapi benar-benar keluar dari sistemnya.
Kalau kita bandingkan dengan jouhatsu, ada garis merah menarik yang menghubungkan semuanya.
BACA JUGA:Ekonomi Sumsel Tumbuh Positif di 2026: Pendapatan Negara Kuat, Kesejahteraan Petani Melejit!
Baik jouhatsu di Jepang maupun tang ping-bai lan-run di China, sama-sama lahir dari tekanan sosial yang sama beratnya: tuntutan untuk terus produktif, terus sukses, terus memenuhi ekspektasi keluarga dan masyarakat, tanpa ruang untuk gagal atau sekadar lelah.